Mulailah Menonton TV Secara Sehat

Bagi sebagian anak, televisi adalah hiburan gratis yang setiap saat dengan mudah bisa ditemui. Penelitian tahun 2002 menunjukkan bahwa rata-rata anak Jakarta, dalam seminggu menghabiskan waktu menonton 30-35 jam. Saat ini, bisa dibilang televisi telah bergeser dari fungsinya sebagai media informasi dan edukasi karena didominasi tontonan hiburan yang tidak edukatif.

Menurut Dr. Pinckey Triputra, dosen Fakultas Komunikasi, pasca sarjana UI, menonton TV empat jam sehari sudah tergolong sebagai heavy viewers (penonton berat). Pada anak, efeknya anak bisa terkultivasi atau terpengaruh oleh tayangan-tayangan yang ditontonnya.


"Padahal banyak content TV yang bersifat pembodohan anak, mulai dari acara mistik, pornografi, serta adegan-adegan kekerasan," katanya. Selain itu, tambahnya, keberadaan siaran TV juga telah sangat dominan di dalam keluarga, sehingga terkadang menjadi penghambat komunikasi orangtua dan anak.

Penelitian mengenai dampak TV terhadap otak anak menyebutkan bahwa menonton TV dapat menghambat perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca verbal maupun memahami dan mengekspresikan lewat tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 3-10 tahun, tidak bisa membedakan antara yang nyata dan tidak nyata, lebih cepat matang secara seksual serta kegemukan.

"Usia 0-3 tahun adalah usia yang paling berbahaya, karena ini adalah masa the golden age, pada usia ini otak anak baru berkembang, jika informasi yang diterimanya overload, bisa mengganggu penyambungan syaraf otak secara permanen," kata Bobi Guntarto, Ketua Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA).

Selama ini, menurut Bobi, orangtua sering salah mengerti. Mereka kerap membiarkan anak balitanya berlama-lama di depan TV agar tidak rewel. "Balita sebaiknya tidak boleh lebih dari 10 menit menonton TV. Pada usia balita, yang paling baik adalah anak dibiarkan banyak bergerak, bermain atau bernyanyi," tuturnya.

Untuk menyelamatkan anak-anak dari pengaruh buruk tayangan TV, sudah saatnya kita sebagai orangtua ikut serta mengarahkan anak dalam memilih tayangan TV yang layak tonton.
"Pertama orangtua harus tahu dulu jenis acara yang disukai anaknya, lalu ikut menonton. Jika orangtua melihat ada materi-materi yang tidak cocok disaksikan anak-anak, ia harus menyampaikan itu ke anak-anak," ujar Bobi.
Hal senada disampaikan oleh Elly Risman, dari Yayasan Kita dan Buah Hati. "Selain sebagai jendela dunia, TV juga memiliki banyak dampak negatif," ujarnya. Elly juga menyarankan agar orangtua melakukan komunikasi dengan anak dan menyampaikan mana acara yang boleh ditonton mana yang tidak.
Dengan banyaknya bukti betapa TV bisa memberi beragam dampak buruk, banyak keluarga yang kini sudah mulai membatasi acara TV yang boleh ditonton anak-anaknya.

Dra. Hj. Ika Dalimoenthe (41), seorang dosen Sosiologi di Universitas Negeri Jakarta, mengaku meski di rumah berlangganan TV kabel, tetapi ia tetap selektif memilih program acara. "Kami memilih hanya saluran-saluran yang menayangkan kartun," ujar ibu dua anak berusia 11 dan 14 tahun ini. Ia merasa lega karena anak-anaknya terkadang jauh lebih kritis dari dirinya terhadap acara-acara TV yang tidak pantas untuk ditonton.
"Orangtua sebaiknya tidak asal melarang, tapi juga memberi alasan, anak balita berumur 2,5 tahun sudah bisa diajak bicara dan mengerti kok," kata ibu 3 anak dan dua cucu ini. Sejak kecil, Elly sudah membatasi waktu menonton TV untuk anak-anaknya yakni tidak lebih dari 30 menit sehari.

Alternatif kegiatan

Melarang anak menonton TV tidak akan efektif jika para orangtua tidak memberikan alternatif kegiatan yang bisa dilakukan. "Anda tidak bisa membuat no TV jika tidak punya aktivitas sampingan," kata Elly.
Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan sebagai pengganti waktu menonton TV. Antara lain berjalan-jalan, ke perpustakaan, bersepeda, bermain, berolah raga, membantu ibu di dapur, dan banyak lagi.
Jika orangtua tidak bisa terus menerus melakukan pendampingan kepada anak, ada baiknya orangtua juga memberikan informasi dan pelatihan kepada pembantu dan pengasuh anak di rumah tentang jadwal anak boleh menonton TV.

Dengan berkurangnya waktu menonton TV, anak akan mempunyai kesempatan mempelajari dan mengalami kegiatan-kegiatan bermain yang dapat meningkatkan kecerdasan dan kemampuan motoriknya.
Untuk menciptakan generasi anak yang lebih sehat, mari kita mulai melakukan seleksi, pengaturan dan pembatasan program TV mana saja yang layak ditonton anak-anak kita.

Kampanye televisi sehat sedang dicoba untuk digalakkan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI). Intinya, anak-anak harus dikawal ketat oleh orangtua ketika menonton televisi. Tidak hanya televisi sehat, YKAI bahkan mencanangkan Hari Tanpa Televisi pada Hari Anak tanggal 23 Juli 2006 ini. Dalam sehari itu, orangtua diharapkan dapat mengajak anak-anaknya sama sekali tidak menonton televisi.
Kepala Divisi Informasi YKAI, Bobi Guntarto, mengatakan saat ini televisi susah dihindari anak-anak, apalagi jika mereka hanya ditunggui pengasuh saat orangtua bekerja. Karena itu, yang penting bukan melarang anak menonton televisi, tetapi mengatur dengan membatasi waktu menonton.

Beberapa saran mungkin berguna:

1. Diusahakan tidak meletakkan televisi di kamar, terutama kamar anak, karena akan membuat anak terbiasa dengan kehadiran televisi, bahkan hingga untuk menemani tidur. Ini harus dihindari.

2. Jika mau membatasi waktu menonton, usahakan seketat mungkin. Untuk anak di bawah tiga tahun, maksimal waktu menonton adalah setengah jam sehari dengan sepuluh menit per sesinya.

3. Orangtua sebaiknya menemani anak menonton dan memilihkan saluran yang tepat meski itu sulit ditemui. Pada saat iklan, orangtua juga wajib menjelaskan.

4. Televisi bukan alat pengganti pengasuh bayi. Jadi, jika anak sedang rewel dan menangis, sebaiknya jangan dihibur dengan televisi. Cari kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

5. Anak agar tidak diberi tontonan yang agresif, yang memicu anak mencontoh. Untuk anak di bawah lima tahun, tontonan agresif seperti kartun Tom and Jerry, misalnya, tidak dianjurkan. Selain belum menangkap humornya dengan tepat, anak akan dengan mudah meniru adegan pukul-pukulan di dalamnya.



Mindset Pemimpin Strategis

Inilah salah satu isu terpenting yang acap dihadapi organisasi: anggotanya tidak mampu menyatukan pikiran mereka agar berpikir dan bertindak sebagai pemimpin-pemimpin strategis (strategic leaders). Padahal menurut Hughes, karyawan yang berpikir dan bertindak sebagai pemimpin strategis, secara individu atau sebagai kelompok, merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan keberhasilan jangka panjang sebuah perusahaan.

Para eksekutif senior memang sudah selayaknya mempunyai mindset sebagai seorang strategic leader. Tetapi itu tidaklah memadai. Karyawan pun seharusnya juga mempunyai mindset strategis. Para karyawan tidak hanya dituntut untuk melaksanakan sebuah peran fungsional belaka, tetapi juga peran strategis dalam organisasi.
Seorang eksekutif bertanggung jawab agar para karyawan memahami strategi organisasi dan juga bagaimana peran dan tanggung jawab mereka berkaitan dengan pelaksanaan strategi itu. Bukankah seorang karyawan harus mempraktikkan strategi yang telah ditetapkan dalam aktivitas sehari-hari mereka?


Penyusunan dan implementasi strategi dapat menuai kesuksesan jika dalam lingkungan organisasi terjadi sebuah pembicaraan strategis yang berkelanjutan antara berbagai level, dari level atas sampai ke bawah.
Diskusi strategis ini diharapkan juga bergulir antar bagian secara horizontal. Tentu ini harus didukung kepemimpinan yang kuat, sehingga karyawan memiliki visi yang sama dan sepakat terhadap prioritas yang dianggap penting.

Mindset strategis akan membantu organisasi meningkatkan daya saing karena membuka peluang kuat bagi organisasi untuk memiliki human capabilities dan human organizational abilities.
Mindset yang salah juga sering menjadi sandungan bagi usaha perubahan yang bersifat transformasional. Jika para pemimpin tidak memiliki mindset yang dibutuhkan bagi proses perubahan yang sedang berlangsung, ini pertanda lampu merah bagi keberhasilan upaya perubahan keyakinan, pandangan, asumsi mereka tentang orang, organisasi, dan perubahan dapat menghalangi mereka untuk secara tepat merasakan dan memahami dinamika yang mereka hadapi.

Konsekuensinya, mereka merespon dengan taktik dan strategi keliru. Mereka membuat keputusan yang salah, melewatkan tugas yang penting, dan memicu resistensi karyawan.
Ketidaksadaran bahwa asumsi-asumsi mereka ini salah merupakan masalah yang gawat. Karena pemimpin memiliki otoritas dan kekuasaan, ketidaksadaran terhadap kesalahan asumsi ini dapat memiliki dampak negatif yang jauh.

Mindset organisasi

Menurut Argyris, sejatinya organisasi bisnis maupun non bisnis memiliki dua mindset yang dominan. Pertama, apa yang disebut dengan mindset produktif. Organisasi yang memiliki mindset ini selalu mendorong proses belajar untuk memperoleh pengetahuan baru yang bermanfaat.
Kedua, apa yang disebut dengan mindset defensif. Organisasi yang memiliki mindset ini memandang pengetahuan hanya akan bermanfaat bila tidak bersifat mengancam atau mengecewakan individu atau departemen tertentu dalam organisasi.

Kita juga mengenal mindset perintah dan kendali (command and control mindset) masih jamak digunakan dalam organisasi. Dalam mindset ini karyawan menggunakan tangannya, dan pemimpin menggunakan fikirannya. Keduanya tetap 'dibuat' terpisah agar tidak mengganggu produktivitas.
Pemimpin menetapkan tujuan dan membuat rencana, karyawan yang melaksanakan. Pemimpinlah yang bertanggungjawab terhadap kinerja organisasi. Mereka yang seharusnya memecahkan masalah-masalah yang besar, seperti menangani keluhan pelanggan utama, menyalurkan dan mengendalikan informasi, membuat keputusan. Pendek kata pemimpin adalah pusat organisasi.

Pemimpin dengan mindset ini mengatasi masalah motivasi dan kinerja melalui berbagai teknik perintah dan kendali: intimidasi, disiplin, dan mengandalkan otoritas, membuat model komitmen dengan jam kerja yang panjang, dan melangkah masuk untuk memperbaiki sesuatu dan memecahkan masalah.
Beda lagi dengan 'pemimpin berbasis kinerja' (performance-based leaders) yang membantu orang lain dengan mindset "saya memiliki tempat ini". Mereka melakukan ini dengan menciptakan lingkungan agar karyawan berfikir dan bertindak seperti pemilik.

Seorang pemilik melakukan apapun yang diperlukan untuk memuaskan pelanggan dan menjalankan bisnis sehingga menjadi lebih baik di masa datang. Pemimpin dengan ownership sebagai mindset akan melihat setiap masalah atau inisiatif sebagai kesempatan kepemilikan (ownership opportunity).

Transformasi mindset

Sementra itu Andrew Spanyi menyodorkan cara yang efektif untuk mentransformasikan apa yang disebutnya sebagai The Traditional Functional Mindset melalui Enterprise Business Process (EBM) dan mempraktikkan Enterprise Business Process Management (EBPM).

EBM memfasilitasi ekspresi yang singkat tapi jelas mengenai tujuan dan arah strategi. Bahasa yang relatif sederhana dari proses bisnis ini memungkinkan pemimpin untuk menghindari penggunaan jargon-jargon yang berlebihan dan membuat tujuan dan arah strategi lebih mudah dipahami oleh semua lapisan dalam organisasi.
Juga dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dan saling ketergantungan antar kelompok dalam organisasi sehingga setiap kelompok dapat lebih saling memahami satu dengan yang lainnya dalam proses bisnis yang pada akhirnya dapat menciptakan nilai bagi pelanggan dan pemegang saham


Meningkatkan Produktivitas

Waktu adalah alat penyeimbang yang paling hebat, karena setiap orang punya angka yang hampir sama setiap harinya. Tapi bagi kebanyakan pekerja, waktu yang tersedia umumnya jauh lebih sedikit dari yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan tugas. Meski begitu, dengan kreativitas, kita bisa menyelesaikannya dengan lebih cepat. Termasuk tugas-tugas penting, yang mempercepat keberhasilan Anda.

Mulai dengan terfokus

Saat pekerjaan menumpuk, kita pasti langsung dihinggapi stress. Tapi saat kits merasa tugas yang dihadapi menyenangkan, tekanan itu akan hilang dan kita mampu bekerja dengan cepat. Untuk itu, ambillah beberapa menit untuk menenangkan did dan mengorganisir pikiran. Layaknya bermeditasi, kosongkan pikiran, fokuskan, lalu tingkatkan enerji dan perspektif kita. Cara ini akan membantu kita lebih produktif.

Isi hari dengan berbagai ide

Ambillah sebuah kertas - apa saja, lalu tulis apapun yang harus dikerjakan hari ini. Biarkan pikiran Anda berputar, dan tuliskan semua. Sebagai hasil kreatif, jangan pernah mengkritik ide-ide Anda sendiri - jangan mencari hal-hal yang tak bisa atau tak harus Anda lakukan. Intinya, semua hal penting sudah di tulis di kertas.

Buat daftar aturan 80/20

Buatlah aturan 80/20 yang harus dipatuhi. Ingat, 80 persen adalah tugas yang diselesaikan dan 20 persennya yang tengah diusahakan. Langkah ini akan membuat hari-hari Anda terfokus, untuk menyelesaikan semua tugas sesuai tenggat waktu.

Kelompokkan

Untuk setiap aktivitas yang kurang lebih sama, Anda bisa mengelompokkannya ke dalam satu kategiori. Cara ini akan membuat lebih terfokus dan temotivasi dalam mengerjakannya, atau mungkin akan membuat Anda sadar bahwa pekerjaan itu tak seberat yang diduga. Buat pertanyaan-pertanyaan juga membantu kita mendapatkan hasil yang diinginkan, terutama jika tugas itu tak terlalu kita sukai.

Pisahkan

Pisahkan setiap kelompok yang ada di daftar itu. Pecahkan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga kita tetap bisa menyelesaikannya satu persatu. Seberapa besar tugas yang dikerjakan, tergantung cara kerja Anda. Misalnya, setiap pekerjaan harus kita selesaikan dalam waktu 15 menit hingga satu jam, atau lainnya.

Buat daftar prioritas

Prioritaskan setiap tugas di daftar. Sederhananya, lihat daftar dan tanya diri sendiri 'di sore hari nanti, apa yang terakhir ada di daftar dan jika selesai, apa dampak positif bagiku?' Jawabannya akan menjadi prioritas pertama Anda, terus lalukan pertanyakan pada tugas-tugas lain di daftar itu - hingga semuanya selesai.

Jadualkan aktivitas itu

Saat memisahkan tugas satu persatu, jadwalkan berapa lama harus selesai. Tepati jadwal itu. Ada dua pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama, pastikan tugas paling penting dikerjakan lebih dulu, begitu juga dengan yang kedua dan seterusnya. Anda juga bisa menjadwalkan prioritas utama itu, pada jam-jam paling produktif. Kapan jam produktif itu, hanya Anda sendiri yang mengetahuinya. Intinya, lakukan tugas terberat pada saat Anda tengah bersemangat. Meski membuktikan keseriusan kita, namun bila kita mengerjakan tugas berat di pagi hari (waktu produktif paling umum banyak orang) berarti kita tengah menempuh risiko besar - sebab bisa jadi pekerjaan lainnya tersisihkan.

Biarkan mengalir

Hati-hati mencuri waktu dengan mengerjakan hal lain, bila ingin aturan 80/ 20 ditepati. Pastikan untuk memprioritaskan dan mengevaluasi tugas baru yang datang. Jangan mengorbankan waktu dengan menggantinya dengan tugas yang tak terlalu penting. Di saat yang sama, tetap buka pikiran dan kemauan untuk terus mengerjakan tugas-tugas itu.

Selesaikan dalam satu hari

Tepati daftar dan jadwal yang telah dibuat, jangan biarkan satu tugas berat mengorbankan tugas lainnya. Upayakan untuk selesai di hari yang sama, sehingga perhatian Anda terkonsentrasi pada tugas itu. Pindahkan semua hal yang bisa mengganggu konsentrasi Anda. Kalau perlu, Anda bisa mengambil lembur agar Anda dapat bekerja tanpa gangguan apapun.



Menggapai Impian di Tengah Krisis

Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Power words ini mendorong kita untuk mempunyai mimpi. Layaknya sebuah mimpi, ini tentu jauh dari kenyataan pada saat ini. Mimpi itu untuk
membakar api motivasi dalam dada. Tapi seberapa tinggi mimpi itu harus digantungkan agar motivasi tetap terpelihara?

Mimpi adalah tujuan jangka panjang, mirip sebuah visi. Untuk mencapainya diperlukan tonggak-tonggak (milestones),yang tentu saja harus realistik. Demikian pula bagi sebuah karier.


Kunci untuk membuat tujuan jangka pendek dan jangka menengah untuk sebuah karier adalah SMART: Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Timely. Mungkin Anda sudah sering mendengar istilah ini, tapi untuk menyusun sebuah tujuan, karier terasa sangat menarik.

Kata pertama, specific, berarti dalam merumuskan tujuan, mesti dijabarkan secara rinci. Janganlah hanya bersifat umum saja. Misalnya meningkatkan network. Pernyataan ini saran terlalu umum. Harus dijabarkan katakanlah menjadi mengikuti pertemuan organisasi profesi setiap bulannya. Demikian pula jangan hanya meningkatkan Bahasa Inggris, tapi misalnya mengikuti conversation class di Lembaga X.

Kedua, haruslah measurable. Tujuan haruslah merupakan sesuatu yang konkret dan dapat diukur seberapa besar kemajuannya. Misalnya, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris melalui peningkatan TOIEC, katakanlah meningkat 100 poin. Ketiga, achievable. Tujuan ini haruslah masuk akal dan jangan menyia-nyiakan diri terjerembab dalam jurang kegagalan. Artinya, perhitungkan nsiko kegagalan dalam porsi yang moderat. Jika ingin melanjutkan studi, sementara Anda bekerja dan sudah berkeluarga, perhitungkan waktu yang tersedia, sehingga Anda dapat memperkirakan secara tepat berapa lama studi itu dapat Anda selesaikan.

Keempat, realistic. Jujurlah pada diri sendiri. Pikirkan segala kondisi yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, bersikaplah realistis dalam menetapkan tujuan berdasar kondisi pada saat ini. Kelima, timely.Tujuan mesti mempunyai tenggat waktu, dan jangan terlalu jauh ke depan. Pola ini perlu dilakukan agar kita dapat memfokuskan diri dalam mencapai tujuan. Karena tanpa tenggat waktu, tidak ada sense of urgency, tidak ada pula alasan untuk mengambil tindakan saat ini.

Tujuan itu harus dituliskan. Buatlah menjadi semacam kontrak psikologis dengan diri Anda. Jika Anda telah mencapai tujuan yang telah dituliskan itu, berikanlah reward terhadap diriAnda sendiri. Sebaliknya, jika Anda tidak mencapai, hukumlah diri Anda sendiri.

Beritahukan tujuan itu kepada lingkungan sosial terdekat, keluarga, pacar, teman, atau siapa saja yang dekat dengan Anda. Ciptakan suasana sebuah psikologis, agar Anda selalu teringat jika bertemu mereka, dan merasa malu bila Anda tidak harus melakukannya. Jika perlu, berilah semacam penanda terhadap tujuan itu. Misalnya, menempelkan power words di dinding kamar yang dapat diasosiasikan dengan tujuan Anda. Berikutnya, Anda dapat memecah tujuan besar menjadi tugas-tugas kecil yang lebih mudah dijangkau. Kaitkan hari-hari penting Anda, ulang tahun diri Anda, ulang tahun pacar, atau ulang tahun pernikahan.

Namun, harus diingat tujuan pengembangan karier bukanlah sekadar mengembangkan kompetensi untuk meningkatkan kemampuan diri. Ibaratnya Anda tidak boleh banyak mengembangkan produk, tanpa ada upaya untuk memasarkannya. Inilah yang tidak boleh terlewatkan: memasarkan diri sendiri.
Dalam dinamika lingkungan karier yang semakin kompetitif, Anda harus mengikuti gelombang besar kecenderungan dalam dunia karier: mengemas diri Anda, layaknya sebuah produk; dan memasarkan secara terencana, sistematis, dan proaktif.

Langkah-langkah apa yang mesti disiapkan? Pertama, memahami Anda sendiri. Kedua, memahami pasar tempat Anda berkarier. Ketiga, memahami siapa yang akan menerima jasa Anda. Dalam memahami diri, tentu yang paling penting adalah mengevaluasi kelebihan dan kekurangan. Pertimbangkan dan pikirkan dari poin-poin itu, mana saja yang dapat disodorkan sebagai keunggulan kompetitif Anda dalam persaingan.Temukan sisi-sisi dari diri Anda, yang menarik bagi pemakai jasa Anda.Temukan brand Anda. Pilih ciri-ciri yang merupakan kelebihan Anda dibanding orang lain.

Pahami dengan baik pasar Anda. Apakah yang dibutuhkan oleh industri? Bagaimana kecenderungannya? Bagaimanakah kompetisinya? Adakah kebutuhan-kebutuhan spesifik untuk profesi atau jalur karier Anda? Dalam menghimpun informasi ini, tidak hanya dari informasi yang terpublikasi, tapi yang penting juga dari network Anda.
Tentu saja Anda tidak boleh melewatkan siapa yang akan memakai jasa Anda. Telusuri perusahaan-perusahaan yang kemungkinan membutuhkan Anda di sate sisi, dan di sisi yang lain Anda juga mempunyai minat. Cermati dengan baik bagaimana visi dan budaya yang hidup dalam perusahaan itu. Apakah Anda sudah sepakat dengan visi mereka dan merasa cocok dengan budaya mereka? Kesamaan visi dan kesesuaian budaya (cultural fitness) sangat penting. Karena kedua faktor ini sangat menentukan kesuksesan berkarier di perusahaan tersebut.

Layaknya sebuah aktivitas pemasaran,Anda harus memiliki marketing kit. Dan marketing kit yang utama bagi Anda adalah CV Anda. Tuangkan pengalaman Anda terutama kekuatan yang terkait dengan posisi yang sedang Anda inginkan. Usahakan tidak terlalu panjang, enak dibaca, dan sistematis. Dan salah satu titik yang paling krusial adalah, dalam proses interview. Interview mirip dengan ujian, seberapa jauh CV Anda berkata yang sebenarnya tentang diri Anda. Siapkan jawaban jawaban yang bertumpu kepada tiga pertanyaan dasar:

dapatkah Anda bekerja dengan baik, bagaimana Anda dapat mengetjakannya dengan baik, dan terakhir bagaimana Anda memenuhi harapan perusahaan. Selamat menggapai impian!


Mengajarkan Anak Dermawan

Setiap kali Wanda melihat pengemis, muncul rasa ibanya. Ia seakan-akan ingin langsung menyerahkan uang receha yang berada di kantung celananya. Rasa empatinya cukup tinggi. Memang sejak kecil Wanda sudah dilatih oleh orangtuanya untuk memberi bantuan bagi fakir miskin dan anak-anak yatim piatu.


Karena itulah, meski usianya baru lima tahun, ia tidak merasa canggung untuk memberikan uang atau barang yang dimilikinya. Jiwanya reflek ketika melihat pengemis, atau anak-anak gelandangan, maka ia langsung mengeluarkan uang recehnya. Namun, lain halnya dengan Anto, bocah seusia Wanda. Setiap ia melihat orang-orang yang kurang beruntung, seperti pengemis atau anak-anak di panti asuhan. la cuek saja. Seakan-akan jiwanya tidak memiliki rasa kepedulian sosial.


Memang setiap anak tidak ada yang sama. Tapi sungguh bahagia jika anak kita mempunyai sikap seperti Wanda. Apa yang dilakukan Wanda sangat baik. Tapi, bagaimanakah caranya mengajarkan putra-putri agar tidak memberikan uang kepada sembarang orang? Lalu, bagaimana pula caranya untuk terus menumbuhkan sifat dermawan atau penolong?

Menurut Devi Retnowati, MSc, Psikolog dan Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta, sebenarnya anak yang berusia lima tahun adalah anak yang masih segar-segarnya diajarkan pendidikan yang baik. Pada usia 3 hingga 5 tahun, anak biasanya akan mengikuti apa yang dilihatnya. Misalkan, Ibu ingin mengajarkan anaknya agar mempunyai sifat dermawan, maka si Ibu ini yang harus memberikan contohnya terlebih dahulu.

Dengan demikian, si anak akan mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh ibunya itu. "Seandainya, si ibu tadi memberikan uang pecahan seribu rupiah, maka si anak tersebut juga akan memberikan uang yang sama," jelas Devi. Akan tetapi, lanjut Devi, contoh-contoh ini jangan dipraktekkan sesering mungkin. Karena dikhawatirkan nantinya si anak akan beranggapan lain. Yakni, hatinya akan mengatakan, jika dirinya bertemu dengan so sok pria maupun wanita, orangtua, dewasa dan anak-anak yang menggunakan baju compang-camping, mereka semua itu harus diberikan uang. Padahal, belum tentu mereka itu memerlukan bantuan ini. Ada yang lebih memerlukan lagi selain mereka.

Jadi, agar anak tidak selalu memberi pada siapapun, sebaiknya orang tua mengajarkan kepada putra-putri. Orangtua bisa kok memberitahukan anak agar memilih siapa-siapa saja yang pantas mendapatkan bantuan. Coba Anda ungkapkan kriteria orang-orang yang berhak mendapat bantuan. Dengan ucapan yang lembut, katakan kepada si kecil bahwa pengemis yang berada di emperan jalan itu pantas diberikan bantuan. Pengemis itu mempunyai badan kurus, kerempeng, sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja.

Tetapi jika menemukan seorang pengemis yang terlihat segar bugar, fisiknya gemuk, kekar, sebaiknya jangan diberikan. Lebih baik dana yang akan disumbangkan tersebut dialihkan kepada orang yang lebih membutuhkan. "Dengan kriteria yang Anda ungkapkan, maka secara tidak langsung orangtua mengajarkan pendidikan penggunaan uang dengan baik dan benar pada anak," papar Devi. Selain itu, lanjut Devi, cara yang diterapkan orangtua adalah tidak menerapkan penggunaan uang yang royal. Artinya, orangtua ikut mengkondisikan agar si buah hati melihat dan mengerti mana yang perlu didahulukan dan mana yang tidak.

Selain memberikan pengertian di atas, bisa juga orangtua melakukan cara, yakni membawa buah hati kita ke panti-panti asuhan dan panti jompo. Berilah kesempatan pada si kecil untuk melihat sekeliling panti tersebut. Sambil melihat, Anda sebagai orangtua dapat memberikan pen jelasan, mengenai kedatangan mereka di panti asuhan tersebut.

Ingat, tujuan Anda membawa si kecil ke panti asuhan atau panti jompo tidak lain, agar si anak mempunyai naluri yang dalam serta memiliki jiwa kasihan. Anda bisa mengatakan pada anak-anak bahwa, "Teman-teman yang berada di sini tidak mempunyai orangtua. Mereka sudah pisah dari ibu-bapaknya. Kasihan ya. Sangat-sangat kasihan. Bagaimana kalau kita memberikan sumbangan baju kepada mereka. Setuju?"

Ungkapan yang dilontarkan dengan sebuah pertanyaan kepada si kecil, bisa jadi akan menyentuh perasaannya. la akan mengatakan, iya sebagai tanda setuju dengan ucapan Anda. Lantas, bagaimanakah jika si buah hati tidak mempunyai jiwa menderma? Sebagai orangtua, Anda jangan bingung, bersikaplah tenang. Di sini yang perlu dilakukan, yaitu menanyakan dan memberikan gambaran kepada si kecil mengenai keadaan orang yang tidak mempunyai apaapa. "Sayang, coba rasakan jika tidak makan dari pagi sampai siang. Bagaimana? Tentu merasa lapar dan sedih bukan?," contoh Devi.

Nah, perkataan dari hati ke hati inilah yang harus dilontarkan. Dengan demikian, alunan nada bicara tersebut dapat dimengerti oleh putra-putri kita. Jangan sekali-sekali melarang anak jika ingin menyumbangkan uangnya kepada orang lain. Sebab jika hal ini terjadi maka dikhawatirkan, perasaan dan sikap anak-anak akan 1untur secara bertahap.

Kalau sikap dan perasaan anak untuk menderma sudah luntur, maka sebagai orangtua juga akan mengalami kerepotan di kemudian hari nanti. Untuk membangkitkan rasa dermawan anak, sebagai orangtua jangan bersikap tidak konsisten. Misalkan, sang ibu memerintahkan kepada anaknya, agar menyisihkan uangnya untuk beramal. Sedangkan di depan anaknya, si ibu tidak konsisten dalam menyisihkan uangnya untuk beramal kepada orang lain

Menciptakan Nilai Tambah Dengan MAKE

Jika good corporate government (GCG) dipakai untuk menilai perusahaan dengan kinerja baik, kini muncul penilaian terhadap organisasi dan perusahaan yang dilihat dari tingkat kesuksesan mereka dalam mengelola strategi berbasis pengetahuan.

Indonesian Most Admire Knowledge Enterprise (MAKE) atau studi tentang perusahaan berbasis pengetahuan yang paling dikagumi di Indonesia ini adalah ajang mengukur komitmen dan kematangan organisasi dan perusahaan dalam mengelola manajemen berbasis pengetahuan mereka.

Studi MAKE memberi manfaat bagi organisasi-organisasi yang ingin mengetahui tingkat kesuksesan mereka dalam hal strategi pengetahuan jika dibandingkan dengan para pesaing atau perusahaan-perusahaan dunia yang berperan sebagai pendorong pengetahuan.

Penilaian tingkat manajemen berbasis pengetahuan pada organisasi dan perusahaan akan mendorong para pemimpin organisasi nirlaba dan bisnis ini untuk menciptakan intellectual capital (modal intelektual) yang tangguh mereka.

Siapakah modal intelektual yang dimaksud? Tidak lain dan tidak bukan mereka adalah sumber daya manusia perusahaan yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi dan nilai tambah pada perusahaan.
"Cara ini menstimulasi dan menilai bagaimana suatu organisasi dan perusahaan mengelola knowledge seseorang menjadi keunggulan," ujar Andiral Purnomo, Direktur Indonesian MAKE Study.

Kemampuan perusahaan menciptakan nilai tambah melalui pekerja yang berpengetahuan juga menjadi pertimbangan apakah suatu organisasi dan perusahaan telah mampu mengelola manajemennya.
Karena sumber daya manusia atau karyawan yang disebut sebagai pekerja berpengetahuan bagi mereka bukan lagi menjadi alat produksi, tetapi sebagai manusia seutuhnya yang memiliki semangat berkontribusi dan terus-menerus melakukan inovasi kepada perusahaan.

Menjadi pembelajar

Semangat inilah yang mendorong perusahaan untuk terus menerus menginvestasikan dana mereka untuk salah satunya mendorong karyawan menjadi pembelajar, berkontribusi, dan berinovasi dengan terobosan. "Perusahaan menyadari bahwa knowledge worker ini menjadi salah satu kekuatan perusahaan," ujarnya.
Dua kali Indonesian MAKE Study digelar selama dua tahun berturut-turut. Dunamis Organization Service bekerja sama dengan Teleos Inggris, sebuah badan penelitian mandiri di bidang manajemen berbasis pengetahuan dan modal intelektual di Inggris, dan BEJ.

Teleos sendiri telah menggelar ajang ini sejak 1998 bekerja sama dengan The KNOW Network, komunitas organisasi seluruh dunia berbasis Internet yang berdedikasi menggapai kinerja superior melalui benchmarking, jaringan, dan pola strategi berbagi pengetahuan.

Benchmarking dapat dilakukan salah satunya bercermin pada pemenang MAKE ini. Pada tahun lalu PT Unilever Indonesia Tbk menjadi pemenang MAKE Asia 2005.

Tahun ini sebanyak 67 nominasi yang dikelompokkan pada masing-masing organisasi perusahaan, yaitu bank sentral, jasa, industri, infrastruktur, keuangan, pendidikan, pertambangan, dan teknologi.

Sebanyak 15 finalis akan maju ke tahap seleksi 2006 Indonesian MAKE Study yaitu PT Anugrah Argon Medica, PT Astra International Tbk, Asuransi Astra, Bank Danamon, Bank Indonesia, Bank Muamalat, Bank Biaga, BCA, PT Bintang Toedjoe, Kelompok Kompas-Gramedia, Medco E&P Indonesia, PT Telkom Tbk, PT Unilever Indonesia Tbk, PT Wijaya Karya, dan PT Excelcomindo Pratama Tbk.

Mereka adalah perusahaan yang masuk dalam penilaian yang memiliki delapan kategori, yaitu menciptakan budaya perusahaan yang didorong oleh pengetahuan, mengembangkan knowledge workers melalui kepeimpinan manajemen senior, dan menyajikan produk atau jasa atau solusi yang berbasis pengetahuan.

Penilaian selanjutnya adalah memaksimalkan modal intelektual perusahaan, menciptakan lingkungan untuk berbagi pengetahuan secara kolaboratif, menciptakan suatu organisasi pembelajaran, memberikan nilai berdasarkan pengetahuan tentang pelanggan, dan mentransformasikan pengetahuan perusahaan menjadi nilai bagi pemegang saham. "Akan dilihat apakah kinerja mereka menurun, juga aktivitas mereka dalam mengelola aset apakah bagus atau tidak, kalau tidak mereka akan turun," Andiral menambahkan.

Pada akhirnya, penilaian akan ditentukan dengan nilai tambah mereka dalam bentuk keuntungan perusahaan yang dilihat pada neraca rugi laba. Sedangkan untuk organisasi dan perusahaan nonprofit ditentukan oleh kinerja dan sejauh mana manfaat dan kekayaan pemegang saham atau kemaslahatan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder).

Namun, bagaimanapun hasilnya masih dipertimbangkan dengan tujuh kriteria lainnya. Misalnya bagaimana budaya perusahaannya, sumber daya manusianya maupun produk mereka. "Selanjutnya bagaimana kemampuan mereka memaksimalkan intellectual capital, dan kemampuan menciptakan nilai tambah," kata Andiral menambahkan.



Memompa Kreativitas

Dalam situasi pasar yang kompetitif, inovasi mendapat kedudukan yang terhormat. Agar dapat bertahan dan menang, perusahaan mengandalkan inovasi, yang dapat berupa inovasi produk, inovasi layanan, inovasi sistem, dan berbagai inovasi lainnya. Terkadang inovasi memang membutuhkan teknologi yang tinggi, dan dibutuhkan orang yang pintar agar dapat menelurkan produk-produk inovatif.

Lingkungan bisnis TI, telekomunikasi, otomotif, dan sejenisnya memang membutuhkan kepintaran ekstra untuk melakukan inovasi. Tetapi sering pula inovasi bercerita tentang hal-hal yang sangat sederhana. Post-It yang legendaris bukanlah hal yang rumit. Banyak inovasi yang sebenarnya bukan menjadikan tambah canggih, tetapi menjadi makin sederhana. Karena tujuan inovasi adalah membuat hidup lebih mudah. Ketika Kodak menguasai dunia dengan kamera yang serba canggih untuk para profesional, Canon justru mengeluarkan kamera kompak untuk orang amatiran. Lantas dari mana datangnya inovasi? Kreativitas.


Kreativitas bukan hanya dibutuhkan untuk inovasi yang sifatnya breakthrough saja, tapi juga perbaikan yang berkesinambungan seperti dalam konsep Kaizen. Bagi seorang karyawan, kreativitas dapat membantu meningkatkan kemampuan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan dan kesuksesan dalam karier atau pekerjaan. Karyawan yang kreatif akan selalu hadir dengan gagasan-gagasan baru agar ia dan juga perusahaan dapat melaksanakan aktivitasnya dengan lebih efektif dan efisien.

Masih banyak yang berpikir bahwa kreativitas bukanlah hal yang terlalu penting bagi mereka. Mereka mengasosiasikan kreativitas yang tinggi hanya diperlukan untuk bagian-bagian tertentu organisasi, sementara bagian-bagian lainnya tidak memerlukannya. Misalnya, orang-orang yang bekerja di bagian pemasaran, penjualan, desain, atau pengembangan produk sajalah yang memerlukan kreativitas yang tinggi. Bagian-bagian yang lain, seperti akuntansi atau administrasi tidak memerlukan kreativitas yang tinggi.

Benarkah demikian? Bukankah sebuah perusahaan dituntut untuk selalu mampu menciptakan ide-ide baru dan juga cara-cara baru untuk melakukan segala sesuatunya lebih baik? Dengan demikian kondisi ini menuntut karyawan yang selalu siap dengan ide-ide baru. Bukankah sistem akuntansi dan administrasi perusahaan juga perlu secara berkala diperbarui agar dapat secara optimal mendukung aktivitas operasional perusahaan? Berarti kreativitas diperlukan di semua sudut perusahaan.

Kreativitas yang tinggi menjadikan posisi tawar menawar meningkat, yang amat mendukung lancarnya karier. Tetapi ingat, kreativitas bukanlah sesuatu yang netral, dan harus diletakkan dalam konteks tertentu. Kreatif dalam konteks pekerjaan berarti melakukan sesuatu yang baru untuk memberi nilai tambah bagi perusahaan. Ini dapat berarti pendekatan baru terhadap misalnya efisiensi produksi, mengelola dinamika karyawan, dan pelayanan kepada pelanggan.

Karena tidak jarang pula ada kreativitas yang tidak memberi nilai tambah bagi pelanggan.
Mitos yang menyatakan bahwa kreativitas hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, adalah keliru. Sebaliknya kreativitas dapat ditumbuhkembangkan pada setiap orang melalui proses yang sifatnya bertahap. Sebuah penelitian menunjukkan, pemimpin yang memberikan stimulasi intelektual dan mendorong bawahannya untuk berpikir lebih terbuka dapat meningkatkan kreativitas bawahannya. Kreativitas juga dapat ditumbuhkan melalui pelaksanaan tugas yang dilakukan bersama-sama dengan orang lain. Kerjasama dengan orang lain dalam sebuah tim, terutama yang memiliki latar belakang yang beragam, dapat mendorong kreativitas.


Kreativitas berarti keberanian untuk mengambil risiko, karena mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan hasilnya belum pasti. Tentu lebih aman jika memakai metode lama yang hasilnya sudah teruji. Ini berarti harus lebih berani melakukan kekeliruan secara berlebihan. Tentu saja harus mempertimbangkan segala risiko dan konsekuensi dengan cermat terlebih dahulu.

Agar kreativitas meningkat, kita harus rajin mempelajari hal-hal baru. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca, berdiskusi, atau bergabung dengan milis atau asosiasi profesi. Tidak jarang solusi untuk memecahkan suatu masalah terinspirasi dari hal-hal yang baru dipelajari tersebut. Tidak ada salahnya pula jika seorang karyawan bergabung dengan bagian lain yang berbeda dengan latar belakang yang dimilikinya. Misalnya orang produksi yang bergabung di bagian pemasaran agar memperluas wawasannya dan mendapatkan ide-ide baru.
Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu tumbuh dan berkembangnya kreativitas di tempat kerja. Para karyawan dapat didorong untuk mengemukakan ide-ide perbaikan bagi perusahaan. Banyak karyawan yang sebenarnya penuh dengan ide-ide kreatif takut mengemukakan idenya karena kuatir tidak diterima atau bahkan dianggap tidak masuk akal. Tentu lingkungan sangat mempengaruhi, jika lingkungan terbuka dapat lebih memancing kreativitas. Lantas, jika menghadapi masalah ini langkah apa yang mesh dilakukan? Kemaslah ide dengan sangat menarik. Tentu ini membutuhkan kompetensi untuk mempersuasi.


Banyak sekali ide baru yang pada mulanya kelihatan tidak biasa bagi kebanyakan orang ternyata di kemudian hari dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Leonardo Da Vinci adalah sosok orang yang kreatif, yang pada jamannya mungkin dianggap jago mengkhayal. Namun khayalannya pada saat ini banyak yang menjadi kenyataaan. Ide-ide ini hanya dapat muncul dari orang-orang kreatif yang memang secara terus-menerus mau mempelajari hal-hal baru dan tidak mudah menyerah oleh kesulitan yang dihadapi. Sudah siapkah Anda menjadi orang kreatif?


Membangun

Kompetisi memang perlu terus dijaga agar selalu ada lawan tanding untuk mengukur kemampuan perusahaan, sekaligus untuk membuat segenap personel perusahaan selalu waspada. Kompetisi juga membuat perusahaan terus waspada pada perubahan lingkungan bisnisnya

Krisis ekonomi beberapa tahun lalu masih menyisakan memori yang kurang mengenakkan. Semua pihak masih was-was. Perbankan dan pemerintah, dan bahkan juga pelaku bisnis properti, menjadi lebih berhati-hati untuk mengembangkan bisnisnya.

Tetapi apakah kehati-hatian yang sangat tinggi tersebut perlu terus berlanjut? Apakah lalu pembangunan perlu direm? Tentu saja tidak, karena masyarakat, pemerintah, dan pelaku bisnis memerlukan pembangunan properti secara terus-menerus. Pelaku bisnis peroperti, seperti juga PT Bakrieland Development, harus terus membangun. Dengan terus membangun maka perusahaan bisa terus bertahan dan tetap maju


Sebaliknya, perusahaan bisa "terbunuh" jika tidak melakukan dan mendorong kemajuan bisnisnya, meskipun situasi sedang sulit. Beberapa kemungkinan terburuk terjadinya situasi "terbunuh" atau "saling bunuh' dalam kompetisi bisnis adalah: "terbunuh" kompetitor, "terbunuh" perubahan lingkungan kompetisi, atau "terbunuh' diri sendiri".

Kemungkinan pertama, yaitu "terbunuh" oleh kompetitor merupakan kondisi yang paling mudah terlihat, dan oleh karena itu selayaknya kondisi ini paling mudah untuk diantisipasi dan diatasi. Agar tidak terbunuh oleh kompetitor maka pengelola perusahaan dan segenap personilnya perlu terus menerus melakukan penyempurnaan strategi kompetisi berdasarkan rumusan competitor insight dan customer insight yang cermat. Tidak cukup lagi perusahaan 'hanya' sekadar menyusun marketing plan.

Menyusun strategi kompetisi harus didahului dengan proses memahami secara detail kebutuhan, keinginan dan ekspektasi konsumen serta program promosi yang lebih diterima dan disukai konsumen. Melalui competitor insight maka akan diperoleh pemahaman mendalam atas profil kompetitor dan rencana pergerakannya secara lebih dini.

Rencana gerakan kompetitor meliputi rencana peluncuran produk baru, promosi dan bahkan perubahan personil kompetitor. Melalui customer insight dapat diketahui pula keinginan dan harapan konsumen, serta. Melalui customer insight dapat diketahui dengan tepat apa saja keinginan dan harapan sang pelanggan, sehingga akhirnya dapat dibuat produk atau jasa sesuai dengan keinginan pelanggan,

Kemungkinan kedua, perusahaan dapat "terbunuh" oleh perubahan lingkungan kompetisi. Jika semua sekolah menetapkan kebijakan bahwa murid-muridnya harus memakai sepatu seragam yang disediakan khusus oleh sekolah, maka akan "mati"-lah produsen sepatu yang sudah memproduksi sejumlah besar model sepatu sekolah untuk tahun ajaran baru.

Kemungkinan ketiga, "terbunuh" oleh diri sendiri. Ini tidak berarti bunuh diri. Perusahaan bisa saja terjebak oleh pengalaman masa lalunya sendiri. Pola pikir 'mengencangkan ikat pinggang' yang berarti menekan habis pengeluaran biaya tidak bisa disandarkan pada asumsi bahwa telah terjadi keborosan di masa lalu. Karena kalau semata alasan itu saja yang mendasari pengencangan ikat pinggang, bisa jadi 'perut' perusahaan benar-benar 'kepencet' dan perusahaan akan benar-benar kempes dan malah mati.

Lagipula, dengan hanya menengok ke masa lalu, tidak mungkin terjadi perkembangan radikal yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh sebuah bisnis yang sedang menghadapi persaingan sengit.

Kalau hanya mematok pertambahan pendapatan tahun ini sebesar 10% dari pendapatan yang diperoleh tahun lalu, maka tidak mungkin sebuah usaha kecil yang tadinya hanya beternak jangkrik kini dapat sukses memperluas bisnisnya menjadi eksportir sarang burung walet dan bahkan sudah pula mempunyai pabrik pengolahan buah kaleng.

Agar tidak terbunuh

Tentu tidak ada perusahaan dan personelnya yang mau 'terbunuh'. Semuanya pasti ingin sukses bersaing. Hanya saja kesuksesan bersaing tidak datang begitu saja. Perlu dilakukan berbagai hal seperti:

Berpikir inovatif

Mengajak tim kerja untuk duduk bersama dan melakukan brainstorming atas tren yang akan terjadi di masa depan merupakan salah satu cara untuk memacu pemikiran yang berbeda, yang inovatif, yang out of the box. Dengan cara ini pulalah peternak jangkrik tadi bisa sukses menjadi eksportir dan pemilik pabrik pengolahan pangan. Tentu saja dalam hal ini diperlukan komitmen perusahaan untuk menghargai ide-ide yang muncul, dan mendukung ide baru yang telah disetujui tim.

Menciptakan value

Jika ada yang beranggapan bahwa perusahaannya pasti akan tetap jaya karena ia lebih berkompeten daripada kompetitor, maka perusahaan ini menghadapi masalah. Dewasa ini kompetensi saja tidaklah cukup, karena kompetitor pun dapat meningkatkan kompetensi dirinya.

Pelaku bisnis harus mampu memberikan cita rasa atau value tersendiri pada produknya. Oleh karena itu kompetensi yang ada harus dilengkapi pula dengan kreativitas dan kemampuan untuk menciptakan value.

Agar membangun dan terus membangun tidak hanya merupakan sarana agar "tidak terbunuh", tetapi juga merupakan cara agar perusahaan tetap eksis dan bermanfaat buat stakeholder-nya


Membakar Kapal

Di dalam hidup ini, kita semua mempunyai kesempatan untuk mundur, berdiam diri atau maju. Bagaimana agar kita bisa punya keberanian untuk terus maju?

Pada zaman dahulu, hidup seorang raja yang sangat dicintai rakyatnya. Beliau memerintah dengan adil dan bijaksana. Daerah kekuasaannya semakin hari semakin meluas, karena daerah-daerah lain yang mengetahui kepemimpinannya yang bijaksana, dengan sukarela mengabungkan diri ke dalam kerajaan tersebut. Namun rupanya ada raja-raja di daerah lain yang iri dengan raja tersebut. Mereka merasa semakin hari semakin terdesak dengan kepemimpinan raja yang adil tersebut. Akhirnya, suatu hari, mereka berhasil merebut sebuah pulau kecil milik sang raja bijaksana, yang memang terletak di ujung dan tidak begitu dijaga dengan kuat.

Sang raja bijaksana lalu memerintahkan bala pasukannya untuk merebut kembali pulau tersebut. Pasukan pertama yang dikirim gagal. Demikian pula pasukan kedua, ketiga, dan keempat. Sang raja menjadi gelisah, mengapa untuk merebut sebuah pulau kecil saja selalu gagal. Padahal jumlah prajurit yang dikirimnya kurang lebih sama dengan jumlah musuh yang berada di pulau tersebut.


Akhirnya, pasukan kelima pun dikirim, kali ini dengan sang raja sendiri yang menjadi komandannya. Jumlah pasukan yang dibawa pun tetap sama dengan pasukan-pasukan sebelumnya, yaitu tujuh kapal perang lengkap dengan segala peralatan dan pasukannya. Segera setelah mendekati pulau tersebut, mereka mendarat di bagian barat yang merupakan daerah terjal, yang tidak terjaga dengan baik. Selesai mendarat, sang raja lalu mengumpulkan semua prajuritnya dan memberikan motivasi yang membakar semangat.

Sang raja menyadari, bahwa yang menyebabkan pasukannya kalah bukan karena kalah jumlah atau persenjataan, tapi karena kurangnya motivasi dan keinginan untuk menang dari para pasukannya. Mereka mudah menyerah hanya karena beranggapan bahwa musuh lebih menguasai medan, musuh lebih pandai, dan alasan-alasan lain yang mereka ciptakan sendiri. Sang raja lalu berkata dengan tegas "KALI INI KITA SEMUA HARUS BERHASIL DAN MENANG. DAN CARA UNTUK MENANG HANYA ADA SATU. KITA AKAN MEMBAKAR SEMUA KAPAL PERANG KITA, DAN KITA AKAN KEMBALI PULANG DENGAN KAPAL MUSUH KITA!!!

Dan apa yang terjadi kemudian, para prajuritnya bertempur dengan matimatian dan penuh semangat. Tidak ada kata mundur, apalagi kalah. Karena jika mereka kalah, mereka akan dibunuh oleh musuh mereka. Jika mereka bisa melarikan diri dan bersembunyi, mereka akan mati kelaparan karena tidak bisa keluar dari pulau. Kondisi saat itu benar-benar hidup atau mati. Tidak ada jalan lain untuk kembali.

Tiga hari tiga malam pertempuran itu berlangsung, dan di awal hari keempat, semua pasukan musuh yang tersisa akhirnya menyerah. Yang lebih luar biasa, sang raja dengan kebijakannya mau mengampuni pasukan yang menyerah. Sang raja memberikan pilihan, apakah mereka mau pergi dari pulau itu, ataukah mereka tetap tinggal di pulau itu dan menjadi bagian dari rakyatnya. Semua pasukan musuh yang tersisa akhirnya mau menjadi rakyat sang raja, karena mereka merasa kagum akan keberanian, ketangguhan dan kebijakan sang raja.

Tepat empat hari kemudian, sang raja dengan pasukannya kemudian kembali ke kerajaan menggunakan kapal musuh mereka. Begitu mereka sampai di tempat, semua rakyat sudah menunggu kedatangan mereka sambil mengelu-ngelukan sang raja. Sejenak sang raja terdiam, lalu berkata dengan bijak "KEMENANGAN INI HANYALAH HASIL AKHIR. TAPI KEBERANIAN UNTUK MEMULAI, DAN 'MEMBAKAR 'KAPAL' DI BELAKANG KITA ADALAH KUNCINYA. SAAT KITA `MEMBAKAR 'KAPAL', BUKAN SAJA TIDAK ADA JALAN UNTUK KEMBALI ATAU BERDIAM DIRI, TAPI API AKAN TERUS MENGEJAR KITA, DAN MENDORONG KITA UNTUK MAJU. HANYA MEREKA YANG BERANI 'MEMBAKAR KAPAL' DI BELAKANGNYA, YANG AKAN MENCAPAI TUJUAN HIDUPNYA

Refleksi

Rekan-rekan sekalian, Apakah dalam hidup ini Anda selalu bergerak maju ....? Ataukah Anda maju sejenak, kemudian berdiam diri karena Anda merasa halangan hidup Anda terasa berat untuk Anda lalui? Ataukah Anda berdiam diri karena sudah merasa nyaman berada di tempat Anda yang sekarang ?

Di dalam hidup ini, kita semua mempunyai kesempatan untuk mundur, berdiam diri atau maju. Namun ada beberapa hal yang membedakan orang ratarata rata dengan orang sukses. Orang rata-rata melihat kesulitan sebagai hambatan, sedang orang sukses melihatnya sebagai tantangan. Orang rata-rata bila gagal dengan satu cara akan menganggapnya sebagai kegagalan abadi, orang sukses mempunyai fleksibilitas untuk mencoba dengan cara lain bila satu cara gagal.

Orang rata-rata akan 'berhenti' bila mereka merasa telah berkecukupan atau melihat jalan di depan bertambah sulit. Sementara orang sukses akan terus maju selama masih ada peluang untuk mendapatkan yang lebih baik.

Namun, satu hal yang paling penting bila kita ingin mencapai sesuatu, adalah berani 'membakar kapal' di belakang kita, dengan MENUTUP semua jalan untuk kembali atau berdiam diri. Misalnya dengan berani keluar dari pekerjaan kita di kantor, bila kita serius ingin berwiraswasta, atau apapun juga yang bisa memaksa Anda serius mencapai tujuan kita. Bila kita berani melakukan hal tersebut, pilihannya hanya BERHASIL ATAU BERHASIL. Hanya mereka yang berani 'membakar jembatan' di belakangnya yang akan mencapai tujuan hidupnya. Sukses untuk Anda!



Melatih vs Membiasakan Anak: Mana Lebih Efektif?

Kombinasi keduanya dapat efektif dalam mengarahkan anak pada sebuah sikap mental dan perilaku bila orangtua dapat menjadi model yang konsisten ”

Susan (31 tahun), ibu satu anak usia 2 tahun, tak habis pikir melihat beberapa wanita mengikuti kelas khusus untuk melatih anak-anak mereka yang baru berumur dua bulanan tidur, makan dan bermain dengan waktu-waktu yang telah terjadwal. Selain itu, para bayi juga dilatih bersikap tidak rewel di tempat umum. ”Para ibu tersebut tega membiarkan anaknya menangis yang katanya bagian dari metode pelatihan. Menurut saya, metode pengasuhan lebih baik dibanding memaksa anak mengikuti jadwal,” ujarnya.

Mungkin ada beberapa dari Anda yang sependapat dengan Susan. Tapi, ada juga orangtua yang memberlakukan peraturan atau jadwal kegiatan anak sehari-hari dengan kaku seperti waktu tidur, makan, bermain, dan sebagainya. Tujuannya, agar anak terbiasa dengan hidup teratur dan disiplin. Begitu pun dalam bersikap terkadang orangtua memberikan batasan-batasan, misalnya dengan mengancam tidak boleh menangis di acara keluarga atau ketika anak menangis meminta sesuatu, ada beberapa orangtua yang menerapkan sikap seperti ‘mama tidak akan menolong kalau kamu tetap menangis’ atau tindakan semacamnya.

Namun, tak sedikit pula orangtua yang mencoba membiasakan anak belajar se-suatu perlahan-lahan dengan anggapan lambat laun anak akan mengerti dan terbiasa dalam bersikap manis. Di sini orangtua banyak bertoleransi yang berpotensi membuat anak kehilangan disiplin atau etikanya dalam bersikap, menganggap ‘Ah, Ibu pasti akan memahami aku’. Jadi kapan waktu men’dengarkan’ keinginan anak? Konsep pengasuhan mana yang lebih efektif, treat or train?
Psikolog anak dari Lembaga Terapan UI, Indri Savitri M.Si, berpendapat bahwa setiap orangtua memiliki citra anak ideal. Hanya saja dalam kenyataannya orangtua harus sadar bahwa keinginannya tidak bisa terealisasi begitu saja. Selain itu terdapat definisi yang beragam tentang anak idaman, seperti tangguh dengan kriteria berani, tabah, percaya diri, dan inisiatif.


Orangtua pun kadang muncul rasa kecewa dan penasaran jika anaknya tumbuh berkembang tak sesuai yang diharapkan. Lantas bisa timbul sikap pemaksaan orangtua pada anak untuk memenuhi citra ideal mereka. Dan akibatnya anak justru tidak bisa berkembang optimal. “Titik pangkalnya adalah orangtua tidak mau tahu, hanya bicara pokoknya pokoknya saja yaitu anak harus ini dan itu,” katanya.

Agar nilai yang dilekatkan pada anak tidak terlalu tinggi, Indri mengatakan, orangtua harus mengenal karakter dan kemampuan anak. ’’Karena anak bisa merasa frustasi jika terus mengalami pemaksaan dari orangtua,’ jelas Indri. Orangtua, sambungnya, harus mampu mengembangkan sikap toleransi dengan mengenal, memahami, mengerti, dan menghargai anak seutuhnya. Namun, bersikap toleransi bukan berarti memanjakan. Memanjakan artinya orangtua tidak mau repot, supaya anak tidak menangis atau rewel maka ia diberikan sesuatu yang berlebihan. “Selain itu kenali dan pahami anak baik positif dan negatifnya,”ujarnya. Sementara itu penanaman nilai pada anak juga menjadi hal penting.

Latihan = Memaksa?

Tergantung pendekatannya, lanjut Indri, latihan merupakan bagian dari pembentukan kebiasaan. Jika latihan diberikan dengan ancaman, maka anak mematuhinya karena takut pada orangtua. Dia hanya akan berlaku disiplin jika diawasi orangtuanya. Sebenarnya, disiplin merupakan bagian dari self regulation. Pengertian disiplin adalah penanaman perilaku atau pembentukan kebiasaan yang penerapannya harus konsisten. Misalnya, membiasakan anak makan pada waktunya, menonton tv pada jam-jam tertentu, membereskan mainan setelah bermain, dan lainnya.

Psikolog Winarini Wilman PhD Psi dari Universitas Indonesia memaparkan, treat lebih bersifat pasif karena metode yang ditampilkan lebih pada kemampuan orangtua memperlakukan anak untuk bersikap sesuai yang diharapkan orangtua. ‘’Sedangkan, train atau pembiasaan lebih menuntut keaktivan anak,’’ katanya.

Dia menyebutkan, treat lebih tepat diterapkan pada anak yang belum mampu dilatih. Winarini berpendapat, sebaiknya orangtua untuk lebih banyak mengedepankan metode train untuk mengasuh anaknya. ‘’Sebab metode ini tak hanya mengembangkan kognisi, tapi juga melatih motorik dan afeksi anak,’’ katanya. Metode train sudah dapat diterapkan sejak anak usia satu tahun. ‘’Train akan lebih efektif lagi diterapkan jika anak sudah dilatih sejak sedini mungkin,’’ sambung Winarini. Misalnya, gosok gigi sebelum tidur, makan pada waktunya, mengucapkan terima kasih bila mendapat pemberian, pertolongan, dan bantuan.

Winarini tak sepakat jika taktik hukuman dan ancaman ikut menyertai penerapan kedua metode ini. ‘’Karena bagaikan pisau bermata dua, meski kita menggunakan untuk tujuan yang baik seringkali cara ini malah menciptakan kebiasaan atau perilaku buruk, misal anak mencari perhatian atau bahkan dendam,’’ paparnya.

Umumnya, dia melanjutkan, dari penerapan treat orangtua mudah masuk ke dalam train. Contoh, belajar jalan dari dipegangi kemudian terlatih berjalan sendiri.

Menurut psikolog Dini Andrini dari Cikal Sehat-Sehat, metode treat diterapkan berupa perlakuan atau pembiasaan sehari-hari tanpa ada kondisi khusus tertentu. Sedangkan, train diterapkan dengan melakukan pengkondisian terlebih dahulu untuk melatih atau mengembangkan sikap atau nilai tertentu pada anak. Contoh, untuk mengatasi anak yang impulsif (suka merebut mainan), orangtua membuat games keluarga khusus, atau untuk meningkatkan keimanan maka anak dimasukkan ke pesantren. ‘’Namun, kedua metode ini sama-sama penting diterapkan sebagai kombinasi pengasuhan. Jadi, aplikasinya sangat tergantung pada berbagai hal, misal, nilai yang dianut keluarga, sifat orangtua, karakter dan kondisi anak, situasi dan kondisi, dan lainnya,’’ papar Dini.

Dini menambahkan, metode treat sudah dapat diterapkan sejak anak lahir dan train mulai pada usia sekitar 8 bulan. Metode train dapat kemudian dapat dikombinasi dengan penerapan treat untuk kian membiasakan anak pada kegiatan tertentu. ‘’Misal, melatih anak makan di meja makan, mulanya agak dipaksa, lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan dia mau makan di meja makan karena ada semacam reward berupa waktu berkumpul bersama dengan keluarga di meja makan,’’ katanya. Sebaliknya, metode treat kemudian dapat menjadi train. Misal, mengubah pola tidur anak yang biasa tidur larut malam. ‘’Semula anak diperbolehkan nonton tv bila belum mengantuk, kemudian di-train harus masuk kamar tidur jam 9 walaupun belum mengantuk,’’ ujar Dini.

Dr William Sears, dokter spesialis anak dari AS, dalam bukunya The Baby Book memaparkan kritiknya tentang pola pe-ngasuhan orangtua berdasarkan jadwal ketat untuk waktu makan bayinya. “Terlalu ekstrim karena bayi akan kehilangan momen-momen bernilai seperti komunikasi ketika orangtua menyuapinya makan,’’ katanya. Sedangkan, sambung Sears, orangtua juga kehilangan kemampuannya untuk membaca respon dari anaknya. “Keadaan ini akan berkembang menjadi timbulnya jarak antara anak dan orangtua, padahal pada masa ini Ibu perlu mengenal lebih jauh si anak,” imbuhnya.

Jika orangtua mengenal karakter anak akan dapat membantu anak menata dirinya dengan lebih tepat. Karenanya, perlu dikembangkan komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak untuk mengetahui harapan masing-masing pihak. Tak ada salahnya dibuat komitmen bersama dengan segala konsekuensinya. Sehingga orangtua bisa menerapkan pengasuhan yang lebih efektif dengan tetap menghargai kelebihan dan kekurangan anak.

’’Di dalam keluarga harus ada budaya teratur. Ini kuncinya,’’ papar Indri. Sehingga anak akan melakukan dan mengikuti pola di dalam keluarga. Misalnya, saat anak berusia 6 tahun tetap diusahakan mengurus keperluannya sendiri seperti menyiapkan baju sekolah atau membereskan tempat tidur meski sudah ada pembantu. Penerapan disiplin bisa menentukan keberhasilan pembentukkan perilaku.

Tips Orangtua mendidik tanpa perlu mengancam

1. Cintailah anak dengan Bijaksana. Cinta atau kasih sayang adalah energi paling besar yang dapat membantu anak mengatasi masalah. Jadi, terapkan disiplin dengan kasih sayang. “Mencintai anak berarti mengenali sebenar-benarnya anak kita,” ujarnya.

2. Libatkan anak dan jadikan orangtua sebagai teladan (contoh). Ajak anak dalam menanamkan kebiasaan. Contoh, jika ingin anak membereskan makanan setelah makan, ajak anak ikut membantu dengan memisahkan sisa makanan ke tempat sampah, lalu letakkan di tempat cucian. “Akan beda kalau kita hanya bilang ‘Adik....ayo bawa piring kotor ke belakang’,” katanya.

3. Kreatif. Anak hakekatnya bersifat emosi dan moody begitu pun orang dewasa. Artinya malas atau tidak mood adalah manusiawi. Jadi orangtua harus kreatif menemukan solusi dalam penanaman kebiasaan anak.

4. Kompak. Penanaman kebiasaan di rumah memerlukan kekompakkan ayah-ibu, pengasuh, kakak-adik, and seluruh keluarga.

5. Lakukan disiplin dengan konteks gembira.



Mari Berempati

Anak lahir ke dunia sudah memiliki kepekaan sosial. Tinggal bagaimana orangtua menebalkan dan menerapkan rasa itu sehari-harinya.

Setiap anak sesungguhnya memiliki potensi naluri sosial dalam dirinya. Karenanya, sejak masih balita anak sudah bisa diajarkan tentang kepekaan sosial. Kepekaan sosial pada anak dapat ditumbuhkan dari pengalaman perasaannya. Namun, untuk menciptakan pengalaman perasaan pada anak, orangtua harus terlebih dahulu memahami perasaan anaknya.

Saat anak menangis karena lapar, ibunya langsung datang dan berkata "Sayang, kamu lapar yah?”. Nah, sejak itulah dimulai pelajaran kepekaan yang pertama. Menurut psikolog Rani I. Noe’man, dari Yayasan kita dan Buah Hati, kepekaan sosial pada anak dapat timbul dari rasa sensitif orangtua terhadap kebutuhan anak sehingga anak dapat belajar bagaimana memenuhi kebutuhan orang lain.


Dalam mengajarkan kepekaan sosial pada anak, orangtua harus rajin memberikan contoh. Jika Orang tua memiliki sifat penolong biasanya Anak juga akan demikian. "Anak itu hidup dengan mencontek orang tuanya, karena itu orang tua harus hati-hati dalam melakukan sesuatu," kata Rani. Anda memberikan uang untuk pengemis, anak melihatnya, otomatis dia akan melakukan hal yang sama.

Selain itu, Anda juga bisa memberikan pemahaman perasaan kepada anak. “Terapkan selalu kepada anak bahwa setiap manusia mempunyai perasaan sehingga anak bisa memahami perasaan orang lain,“ sambung Rani. Kalau pembantu sedang sibuk tapi anak tetap merengek untuk menemaninya bermain, Anda bisa berkata, “Nak, mbaknya lagi sibuk, kalau kamu lagi main terus digangguin, kamu pasti sebal, sama halnya dengan mbak kan?”

Belajar memahami orang lain

Kepekaan sosial adalah bagaimana caranya kita memahami kebutuhan orang lain. Itu menjadi dasar yang penting karena dapat melahirkan sikap empati dari si anak. Sementara itu, kepekaan sosial dapat berpengaruh bagi perkembangan empati anak terhadap lingkungan. Bagaimana anak bisa mengetahui atau membantu orang yang kesusahan, apabila dia tidak mempunyai empati. Semua itu bisa mudah diajarkan, apabila Anda menerapkannya sejak anak masih kecil. “Kalau dari kecil anak sudah memiliki kepekaan sosial, itu akan mempengaruhi keseluruhan elemen hidupnya nanti. Anak bisa menjadi lebih disiplin, bertanggungjawab dan madiri,“ papar Rani.
Sebenarnya setiap bayi yang lahir sudah memiliki kepekaan sosial, tinggal bagaimana cara orang tua mengasah kepekaan sosial anaknya. Kepekaan sosial akan berkembang dengan memberikan pelajaran terus-menerus kepada anak. Selain itu, lingkungan juga bisa mempengaruhi perkembangan kepekaan sosial anak. Ajak anak ke tempat-tempat umum, seperti pesta ulang tahun, dimana anak bisa belajar bahkan mempraktekan kepekaan sosial. Ajarkan anak untuk saling berbagi mainan atau makanan dengan temannya. “Saat anak bisa membagi mainan sama temannya, dia akan mengerti kalau main bersama itu lebih menyenangkan dibandingkan main sendiri. Pemahaman seperti itu juga bisa membuat hubungan anak dengan orang lain menjadi bagus, “kata Diah Paramita, psikolog dari Jagad Nita Consulting.

Kesempatan paling baik bagi orangtua menerapkan kepekaan sosial adalah saat anak masih balita karena dia masih bergantung dengan orang lain. Bila anak menangis, orang tua harus responsif. Tangisan bayi itu beda-beda, ada menangis karena lapar dan ada yang menangis hanya karena ingin bersendawa. “Sampai berusia satu tahun, anak belajar bagaimana mempercayai lingkungannya dan bagaimana dia memenuhi kebutuhannya. Semua itu bisa diperoleh dari orangtua. Itu sebabnya orangtua harus peka terhadap kebutuhan anak,“ papar Diah.
Kepekaan sosial bisa diajarkan lewat film atau buku cerita yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. Anak kecil mudah sekali menyerap apa yang dilihat dan didengarnya karena sebagian besar memori otaknya masih kosong. Penting sekali bagi Anda untuk menggendong, membelai dan memeluk anak agar anak mempunyai pengalaman perasaan. Dari situlah anak bisa memiliki kepekaan perasaan yang akan melahirkan kepekaan sosial.

Untuk dapat menanamkan kepekaan sosial pada anak, orangtua harus mempunyai hubungan yang baik dengan anak maupun dengan pasangannya. Karena ini bisa menjadi contoh nyata awal yang melandasi pengalaman perasaan anak selanjutnya. Kepekaan sosial bisa mempengaruhi interaksi anak kepada orang lain. Ada anak yang bisa berteman dengan asyik dan ada yang tidak. Anak bisa punya banyak teman, itu merupakan hasil ajaran dari orang tuanya mengenai kepekaan terhadap orang lain. Kepekaan sosial juga bisa berarti saling menghormati, saling menghargai, saling memberi, dan kesetiakawanan.

Tips menumbuhkan kepekaan sosial anak

Memahami perasaan anak

Anak Anda mendapatkan nilai jelek, Anda memarahinya. Perasaan anak menjadi tambah kesal. Sebaiknya Anda harus memahami perasaannya dan membantunya mengurangi beban perasaannya dengan tak menekannya dengan harapan Anda. Ajak anak bersama-sama menemukan penyebab nilai jelek dan bangun semangatnya kembali. Dengan begitu anak Anda bisa belajar memahami perasaan orang lain.

Hindari model komunikasi menyimpang

Anda banyak kegiatan tapi tetap saja memasak makanan kesukaan anak. Saat anak tidak mau makan dan melihat masakan Anda belum disentuh, Anda langsung marah-marah. “Maksud Anda memang baik, tapi anak menangkap sebaliknya. Memarahi anak bisa membuat dia berpikir Anda jahat. Itulah maksud dari model komunikasi menyimpang, “jelas Rani.

Berikan bahasa tubuh yang baik

Anda sedang letih, tapi anak mengajak bermain. Lantas Anda menunjukkan wajah cemberut, itu artinya Anda tidak peka terhadap kebutuhan anak. Meskipun Anda lelah atau sedang ada pekejaan menumpuk, jangan menunjukkan sikap acuh pada anak.

Beri dukungan anak mengatasi masalahnya.

Secara perlahan Anda membantu anak untuk mengatasi masalahnya sendiri. Namun, sebaiknya jangan terlibat langsung dengan membantunya mencari jalan keluar dan anak yang melakukan eksekusi. Misalnya, anak dipukul temannya, Anda bertanya penyebabnya dan memancing solusi anak. Kemudian Anda bimbing untuk melakukan penyelesaian yang bijaksana.

Tekankan pada perasaan.

Usahakan untuk mengutarakan perasaan Anda jika anak berlaku sesuatu yang tak berkenan. Anak memukul temannya, Anda berkata, “Mama sedih deh lihat kamu mukul teman.” Saat itu Anak akan belajar, kalau ia memukul teman, perasaan ibunya akan sedih. Lama-lama anak belajar mengerti bahwa kalau dia berbuat salah pada orang lain, perasaan orang itu bisa sedih.


Manajemen Murah Senyum

Tidak sulit menjadi karyawan dicintai atasan, bawahan, dan rekan kerja. Jika Anda seorang pekerja sejati, Anda pasti tahu apa yang harus dilakukan agar menjadi pekerja yang dicintai semua kalangan.

Berbuat baik tidak semudah berbuat jahat. Menurut Floriberta Aning S, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjadi karyawan familiar, disayangi semua kalangan. Pertama, bersosialisasi. Walau ada anggapan berbicara dengan rekan kantor hanya membuang-buang waktu, tapi tak selamanya komunikasi menjadi tindakan yang tidak berfaedah. Untuk pendekatan diri dengan lingkungan kantor, berbicara dengan rekan kerja sangat perlu dilakukan.


Menebarkan senyum menunjukkan bahwa keberadaan Anda di lingkungan karja tidak hanya menyelesaikan pekerjaan dan mengejar jabatan. Jalinlah hubungan hangat dengan rekan kerja sebaik mungkin. Seandainya ada yang datang ke kantor dengan penampilan baru, tidak ada salahnya memberikan pujian. Tanamkan perhatian, bahwa Anda manusia biasa yang butuh komunikasi dengan lingkungan dan bisa berbuat salah. Bersosialisasi dengan teman kantor, akan membuat suasana kerja menjadi lebih nyaman, meningkatkan produktivitas, dan memunculkan ide-ide cemerlang.

Kedua, menghargai pendapat orang lain. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Begitu juga dengan diri Anda. Sudah sepantasnya Anda mengetahui, berapa harga diri dan kemampuan yang Anda miliki. Kelebihan yang Anda miliki, akan meningkatkan harga di mata atasan dan teman. Tidak itu saja. Keberadaan Anda di lingkungan kerja sangat diharapkan semua kalangan, karena mereka butuh kemampuan yang Anda miliki. Tapi jangan meremehkan kemampuan orang lain dan egois. Jika ada teman kerja yang berbeda pendapat dengan Anda, hargailah pendapatnya. Karena orang paling senang jika pendapatnya didengar, walau pendapat itu kurang rasional. Berilah arahan dengan santun, disertai argumenargumen rasional.

Secara umum, semua atasan senang dengan bawahan bercitra positif, dan tidak suka dengan bawahan bercitra negatif. Walau mempunyai kemampuan lebih, namun citra negatif pimpinan tidak akan memberikan nilai plus karena akan mengganggu mekanisme kerja. Suasana kantor menjadi tidak nyaman. Kesuksesan sebuah perusahaan ditentukan oleh suasana dan kenyamanan kerja.

Ketiga, sportif. Pada dasarnya manusia tak luput dari kesalahan. Sudah kodrat manusia berbuat salah. Mengaku salah merupakan suatu hal yang sulit, apalagi minta maaf. Padahal mengaku salah merupakan tindakan mulia yang menaikkan dan meningkatkan harga diri. Pandangan salah, mengatakan mengaku salah akan menjerumuskan seseorang dalam limbah kehancuran dan menjatuhkan prestasi.

Untuk sementara waktu, mungkin kondisi seperti itu bisa terjadi. Namun dalam waktu panjang akan kembali menyinarkan diri. Tapi jangan tunggu atasan dan bawahan protes atas kesalahan yang telah dilakukan. Atau membahas kesalahan di dalam forum. Berbahaya, bisa menjatuhkan harga diri dan menurunkan prestasi. Berilah keyakinan pada semua orang, bahwa Anda tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Selain menjadi pelajaran untuk din sendiri, kesalahan yang Anda lakukan juga bisa menjadi pelajaran bagi semua orang yang berada di lingkaran kantor Anda.

Keempat, proaktif. Yakinkan diri bahwa Anda seorang pekerja profesional yang mampu menangani semua pennasalahan. Kemampuan mengatasi masalah yang merugikan perusahaan, adalah sikap yang ditunggu semua lapisan. Tak tanggung-tanggung, ide dan tindakan yang Anda lakukan membuahkan hasil positif, mengantarkan perusahaan pada suasana kondusif, bahkan lebih maju dari semula. Jika ini bisa dilakukan, Anda telah merevolusi diri dan perusahaan. Percayalah, Anda akan dilirik oleh perusahaan lain dan secara otomatis harga anda akan naik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Memang sulit melakukan hal seperti ini. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengerjakan pekerjaan seperti ini, yaitu orang mempunyai skill, tanggung jawab dan moralitas tinggi terhadap din clan perusahaan. Punya kemampuan tapi tak punya tanggung jawab tetap sia-sia, karena tidak bisa mengimplementasikan kemampuan. Pasalnya, tidak mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kemajuan perusahaan.
Seandainya kondisi ini terus berlangsung dalam din, secara tidak sengaja pola proaktif akan tertanam dan menjadi sikap dalam berbagai tindakan. Mengantisipasi sesuatu sebelum kerugian datang, di luar alam sadar kejelian terasah secara alami. Untuk bahan kajian, jangan lupa mengumpulkan data dari berbagai sumber dan menjadikannya sebagai bahan kajian di setiap masalah.

Kelima, murah senyum. Menebar senyum pada semua orang, bukan hanya sekadar diktum agama atau budaya. Menebar senyum adalah sebuah sikap yang musti dilakukan dalam hidup. Ada dua hal yang tersimpan dalam

murah senyum.
Pertama, kebaikan. Manusianya benar-benar baik, dan senyum sudah menjadi bagian dari tindakan.
Kedua,senyum keburukan. Senyum sekadar cover untuk menutup diri dan menarik simpati, namun pada dasamya tersimpan niat buruk.
Senyum menimbulkan daya tarik sendiri dan meluluh lantahkan kebencian rekan kerja, bawahan bahkan atasan. Oleh sebab itu, senyumlah pada semua orang, apalagi usai berbuat salah. Ciptakan murah senyum pada semua orang. Jadikan senyum bagian dari interaksi. Bisa Anda bayangkan, apa yang akan terjadi jika di suatu perusahaan, karyawannya jarang tersenyum, tapi serius, atau sibuk dengan pekerjaan dan diri masing-masing.

Keenam, komunikator. Jadilah seorang komunikator andal di setiap pertemuan. Usahakan argumen yang Anda lontarkan menjadi bahan kajian perusahaan. Sebagai komunikator Anda harus bisa memikat lawan bicara. Dibutuhlan waktu lama untuk menjadi komunikator andal. Keahlian ini bisa terbangun dengan membaca, menulis dan berdiskusi. Ketiga elemen ini sangat membantu dalam membentuk diri menjadi komunikator andal. Perlu diperhatikan juga, jangan sampai menjadi orang penguasa forum karena forum milik bersama. Walau ada argumen yang tak layak, sebagai karyawan mereka berhak bersuara memberikan sumbangan pemikiran.

Ketujuh, raja gosip. Jauhkan diri dari gosip. Basa-basi perlu namun jangan sampai membuang waktu kerja. Pasalnya akan menyulitkan diri sendiri, dan pekerjaan pun terbengkalai. Harus bisa bersikap fleksibel, tanpa menyinggung perasaan teman. Anda harus menolak ajakan untuk bergosip. Sulit tapi harus dilakukan. Mempunyai teman suka gosip memang menyenangkan. Bisa menghilangkan stres dan tertawa bebas.

Kedelapan, tegas. Sulit bertindak tegas apalagi berhubungan dengan kelangsungan kerja. Tegas pada bawahan merupakan suatu hal yang wajar. Itu sudah wewenang atasan. Yang sulit yaitu tegas pada big bos, karena ketergantungan ekonomi. Tidak sedikit karyawan yang rela melihat kejahatan big bos merajalela di lingkungan kerja. Tidak bisa berbuat banyak, bertindak tegas akan mengancam kelangsungan kerja dan ekonomi keluarga. Ini akibat ketergantungan ekonomi karyawan yang tak merdeka


Malas vs Karakter

Malas bukan sifat karakter anak, tapi bentukan dari lingkungan dan contoh yang diamatinya. Sudah beberapa hari ini Marina (34 tahun) melihat Putra (8 tahun) tidur siang tanpa melepaskan seragam dan sepatunya. “Ah malas Ma, nggak ada bibi,” jawab Putra saat ibunya menegurnya. Jawaban ini membuat Marina terkejut dan menyadari kekeliruannya selama ini.

Psikolog pendidikan anak dari Sekolah Adik Irma dan Lembaga Psikologi Terapan UI, Vera Itabiliana Psi, mengatakan tipe anak pemalas umumnya bisa diamati dari perilakunya, antara lain cepat merasa puas, menyukai kegiatan bersifat pasif seperti menonton televisi, bermain game, atau kegiatan yang tak menuntut anak terlibat di dalamnya. Tak jarang kewajibannya pun tak dilakukan dengan baik. Tapi, jangan lekas mencap anak malas. Amati penyebab dari tindakannya yang Anda definisikan sebagai sikap malas. Anak malas juga seringkali dikaitkan dengan tidak disiplin. Sebelum memberikan penghakiman, cermati dulu penyebabnya.


Menurut Vera, berbeda dengan orang dewasa, sikap malas anak selalu dilatarbelakangi alasan tertentu yang logis. Mungkin saja disebabkan oleh tuntutan orangtua yang terlalu tinggi atau anak tidak mendapat cukup penghargaan atas pekerjaannya yang telah dilakukannya. Sebelum menggantungkan harapan tinggi pada anak, sebaiknya orangtua intropeksi diri dulu. Misalnya jika Anda mengeluh anak malas mandi, sudahkah Anda mandi tepat waktu? Atau anak malas sekolah, pernahkah Anda mengeluh malas ke kantor? Anak belajar dari contoh terdekatnya.

Psikolog LPT UNIKA Soegijapranata Semarang, Drs Haryo Goeritno MSi menambahkan, pada dasarnya tak ada karakter khusus yang dapat dijadikan patokan anak itu malas atau tidak, karena malas sifatnya sementara. Umumnya sifat malas senantiasa dibandingkan antara kegiatan yang biasanya dilakukan dengan kegiatan yang tengah dilakukan saat itu. Karenanya, ukuran malas tergantung pada aktivitas orang-orang yang ada di sekitarnya. Misalnya, saat kakak atau adiknya belajar, anak terlihat menonton TV. Komentar malas pun mampir di telinganya.

Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Conny Semiawan mendefinisikan anak malas ialah anak yang enggan melakukan hal yang sesuai minatnya terlebih yang bukan minatnya. Keengganan tersebut disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu contoh faktor eksternal adalah tak adanya perhatian dan apresiasi terhadap pekerjaan anak.

Pada dasarnya anak memiliki sikap disiplin dan kerajinan, namun tidak tergali dan dibuat menarik. Anak akan lebih mendekati suatu hal yang menarik perhatiannya.”Malas bukanlah suatu sifat karakter tapi merupakan bentukan dari lingkungannya yaitu dari contoh yang diamatinya,” kata Conny.
Berdasar teori Figotski, papar Conny, jika anak tertarik terhadap suatu objek tertentu, maka bagian otak yang potensial mendapatkan stimulus akan mendorong perilaku anak yang rajin, disiplin dan termotivasi melakukan kegiatan. Orangtua bisa mengajak anak terlibat tanpa memberi perintah secara sengaja. Misalnya, ketika anak tengah malas berlatih tenis, Anda bisa memberinya hadiah buku biography Steffi Graft, seorang petenis dunia kemudian letakkan di antara koleksi bukunya. Anak akan tergerak untuk membaca dan terinspirasi dari buku tersebut.

Kenapa anak malas?

Orangtua juga perlu melihat ritme biologis anak sehingga bisa menyusun jadwal waktu belajar atau kegiatan anak lainnya. Jadwal yang disusun orangtua seringkali tidak pas sehingga jika anak tak memenuhinya label malas pun diberikan. Anak mulai menarik diri dari aktivitasnya dan membiarkannya terbengkalai. ‘’Ini indikasi anak mulai malas dan tidak mampu mengikuti kegiatannya disebabkan adanya beda standar orangtua dan anak,” jelas Conny.

Perhatikan pula minat anak, lanjutnya, anak seringkali tidak tertarik atau terlihat malas ketika melakukan sesuatu yang bukan minatnya. Jangan memaksakan minat Anda kepada si kecil. Begitu pun dengan cara belajar anak, karena setiap anak memiliki tipikal pola dan metode belajar yang berbeda. Ciptakan suasana belajar yang berbeda dengan di sekolah, agar anak tidak bosan.
“Anak cenderung ekspresif dan mekanisme berekspresinya masih terbatas. Orangtua harus pintar-pintar membaca penyebab anak malas agar bisa menentukan langkah untuk memberi motivasi ke anak,” kata Vera. Salah satu hal yang dapat memotivasi anak adalah pemberian penghargaan baik pujian, hadiah atau bonus bermain games.

Kendati harus mempertimbangkan kebutuhan anak, orangtua juga tidak boleh memanjakan keinginannya. Misalnya, membiarkan anak terus menonton tv sampai rasa malasnya hilang. Agar anak lebih termotivasi terapkan metode peningkatan standar. Contohnya, hari ini anak mau bekerjasama dengan Anda membereskan mainannya, katakan bahwa akan lebih baik jika selanjutnya anak membereskan mainannya sendiri. Jangan lupa berikan pujian jika anak berhasil melakukannya.

Vera menambahkan, anak yang terbiasa dilayani atau terlalu banyak mendapat larangan akan enggan mengemukakan pendapatnya karena merasa tidak dihargai. "Rasa malas yang terus diabaikan akan menyebabkan anak kurang inisiatif," katanya. Seperti, anak berpikir akan membereskan mainannya, namun pembantu sudah lebih dulu membereskan atau anak berinisiatif memberikan pendapatnya, tapi takut dimarahi atau diejek.

Haryo mengatakan, anak malas tidak identik dengan anak yang tidak mempunyai inisiatif. Misalnya, anak baru saja sembuh dari sakit, atau kondisi badannya sedang tak fit cenderung tidak mau melakukan aktivitas. Faktor psikis anak juga berperan sangat penting bagi anak untuk melakukan aktivitas, seperti misalnya berkaitan dengan kemampuan kognitif (kecerdasan, bakat), afeksi (perasaan, sikap, motivasi), dan psikomotorik (ketelitian, kecepatan, atau keterampilan).

Strategi kompetisi

Selain itu, lanjut Vera, rasa malas anak juga dilatarbelakangi terbatasnya pilihan yang ditawarkan. Ketika anak tidak suka bermain piano, jangan langsung melabeli malas mungkin saja anak menyukai bidang lain atau anak perlu melihat secara langsung kegiatannya sebelum terlibat di dalamnya. "Jangan hanya dijelaskan secara lisan saja, tapi juga dengan tindakan konkret," katanya. Rasa malas tersebut bisa mengakibatkan anak menghindari kompetisi di lingkungan tersebut. Karena jika anak dipaksakan berkompetisi dengan orang lain, ketika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan maka motivasinya bisa menurun.

Haryo menambahkan, strategi kompetisi bisa dimunculkan pada diri anak itu sendiri maupun dibandingkan anak lain. Namun, pembandingan ini harus dilakukan hati-hati karena bisa memunculkan rasa iri, cemburu, maupun kebencian. "Pendekatan yang paling baik adalah anak berkompetisi dengan dirinya sendiri," katanya. Bisa juga mengganti strategi kompetisi secara grup atau kelompok. Dengan begitu tujuan anak berkompetisi bukan lagi untuk dirinya sendiri, tapi kepentingan kelompoknya.

Conny mengatakan, agar rasa malas anak tersingkirkan sebaiknya libatkan bantuan teman-temannya dalam mengerjakan sesuatu. Umumnya anak lebih senang mengerjakan sesuatu jika ada orang lain yang mendampinginya. Misalnya, anak malas membuat prakarya, undang teman sekelasnya ke rumah untuk mengerjakan bersama-sama.

Awalnya memang diperlukan keterlibatan orang lain secara intensif dalam pekerjaan yang harus dilakukan anak. Lambat laun biarkan anak melakukan kegiatannya sendiri. Orangtua bisa mulai melepaskan, jika anak terlihat antusias dan berinisiatif sendiri mengerjakan pekerjaannya. Biasanya anak malas mengerjakan PR-nya, tapi suatu hari anak malah mengingatkan Anda, "Ma sekarang kan waktunya bikin PR."

Tips membuang rasa malas pada anak

• Berilah aktivitas sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat anak
• Mulailah dengan kegiatan sederhana. Jangan dibalik kompleks dulu.
• Senantiasa beri penghargaan bila anak menunjukkan kerajinannya. Reward tak harus berupa barang, namun bisa berupa pujian.
• Jangan mudah sering mengomentasi atau memberi pertolongan, biarkan anak mengerjakan sendiri dan mandiri. Lakukan sesuatu bila anak minta bantuan atau dikomentari. Jangan memberikan komentar yang bersifat negatif.
• Tunjukkan hasilnya pada anak dan berilah komentar positif yang membangun, sehingga anak termotivasi untuk melakukan kembali atau meningkatkan diri.
Conny mengatakan, ada hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan orangtua, antara lain
• Jangan menunjukkan sikap malas pada anak misalnya malas mandi, terlambat bekerja, atau malas membereskan rumah.
• Jangan hanya memaksakan anak untuk berlatih piano atau sebagainya jika tidak diberikan fasilitas yang menunjang kegiatannya tersebut. Sehingga anak terbiasa melakukan aktivitasnya di rumah. “Di masa kanak-kanak pembiasaan-pembiasaan sangat penting untuk membentuk perilakunya,”katanya.
• Jangan biarkan rasa malas menggerogoti anak. Segera antisipasi rasa malasnya.
• Jangan terlalu memanjakan anak dengan selalu membantu aktivitas yang sebenarnya bisa dikerjakan anak sendiri. Karenanya, peran pembantu bisa dibatasi misalnya membiarkan anak memakai baju sendiri, mandi sendiri, dan makan tanpa disuapi.

Ups! Tasku Ketinggalan Ma..

Jika anak malas bersekolah berikut penjelasan dari psikolog Vera Itabiliana, amati dan cari penyebabnya mungkin dari lingkungan rumah, sekolah atau diri anak sendiri. Pernah ditemukan anak malas berangkat ke sekolah karena ingin bermain berdua saja bersama ibunya. Orangtua perlu meluangkan waktu spesial untuk bermain berdua saja dengan anak sehingga anak tak perlu merelakan waktu sekolahnya.

Motivasi anak yang rendah bisa menjadi pemicu kemalasan. Sehingga saat menemui masalah atau kesulitan di sekolah langsung malas ke sekolah. Jika demikian, diperlukan kerjasama dengan guru di sekolah, terutama anak yang baru masuk sekolah. Bangun rasa nyaman terlebih dulu, misalnya dengan mengenalkan anak pada lingkungan sekolah dan guru-gurunya terlebih dulu sebelum bersekolah.

Pada anak yang memang mogok sekolah, terlihat anak malas melakukan hal rutin sebelum ke sekolah seperti mandi, memakai seragam, atau malas membawa tas. Anak juga terlihat tak antusias mengerjakan PR atau menyiapkan buku pelajarannya. Tetap dorong anak untuk melakukan ritual berangkat ke sekolah meski anak terlambat, tidak membawa tas atau tugas sekolahnya. Dampingi anak jika memang diperlukan. Ceritakan hal menyenangkan mengenai sekolah


Kiat Hadapi Rekan Kerja Yang Menjengkelkan

Berhadapan dengan rekan kerja yang tidak menyenangkan, kerap tak dapat dihindari. Agar Anda tidak ikut dirugikan dan terlibat dalam konflik, pelajari langkah-langkah untuk mengantisipasinya.

Di tempat kerja, mau tidak mau, kita harus berhadapan dengan rekan-rekan kerja yang memiliki karakter berbeda dengan kita. Ada yang menyenangkan, pendiam, terlalu banyak bicara, ada pula yang egois dan tidak peduli dengan kita. Berbagai macam karakteristik manusia bercampur baur, dan sangat mungkin tidak semuanya mampu kita hadapi begitu saja.

Jangka waktu kerja yang panjang, kewajiban berinteraksi dengan rekan kerja akan memberi peluang terjadinya senggolan, intrik dan juga percikan kebencian. Faktor stres dan tekanan kerja yang tinggi tentunya sangat mudah memacu adanya konflik dan pertikaian.


Meski situasi ini kerap tak dapat dihindari, ada baiknya kita pelajari lebih dahulu bagaimana cara berhadapan dengan rekan kerja yang memiliki karakter sulit - dengan cara yang lebih profesional.

Tetap Bersikap Tenang

"Kita tidak akan mau bekerja sama dengan seseorang yang sama persis dengan kita," tukas Dosen di Goldey-Beacom College, Dr, Patricia Buhler. "Rekan kerja yang memiliki karakter sama persis akan menyebabkan miskinnya kreativitas dan inovasi. Hal ini bukan saja tidak baik bagi tim, tapi juga bagi perusahaan." Lagipula, bagi Buhler, perusahaan tentu juga lebih suka mencari tenaga baru yang dapat bekerja sama dan memiliki pengalaman kerja dan personaliti yang lebih luas.

Lima tahun belakangan ini, semakin banyak perusahaan yang melakukan psikotes untuk memastikan apakah si calon pekerja mampu bekerja di dalam tim. Bila tidak, ya tinggal ditolak saja lamarannya. Namun masalahnya, apa yang kita lakukan bila harus berhadapan dengan rekan kerja, atau mungkin bos yang memiliki karakter sulit? Pertama-tama, mungkin kita harus luruskan dulu karakter apa saja yang termasuk dalam karakter sulit tersebut.
Menurut Presiden dan CEO Manajemen Training Goeins-Williams Associates, Inc., Devona Williams, ada enam tipikal karakter sulit - yang kita bisa temukan baik pada rekan kerja maupun pada atasan kita, yaitu:

• Tipe pengatur atau penuntut,
• Tipe kurang sensitif, suka berbicara kotor serta kurang pedulian,
• Tipe individu berkaralder kasar, jorok atau tidak bersih,
• Tipe perengek atau suka mengeluh, dan selalu berpikir negatif,
• Tipe pengganggu, atau pembantah dan bermasalah pada komitmen,
• Tipe yang suka mempermainkan orang atau kerap menggunakan politik kantor.

Konflik bisa terjadi atas berbagai sebab, perbedaan tujuan yang ingin dicapai juga dapat menyebabkan terjadinya perpecahan dalam kelompok tersebut. Bagi Williams, perbedaan seseorang dalam melihat sesuatu atau adanya ketidaksetujuan atas suatu hal yang dianggap penting. Apalagi bila dalam hal tersebut belum ada tujuan kerja yang jelas. Ini tentu saja akan dapat menimbulkan masalah.
Konflik dalam bisnis juga bisa meningkat, bila seseorang lebih suka mengerjakan sesuatu secara satu persatu sedangkan yang lainnya lebih memilih mengerjakan tugas yang paling krusial terlebih dahulu, sebelum mendapatkan konklusi. Atasan maupun rekan kerja kita bisa jadi terlalu cerewet dengan pekerjaan kita, atau mereka mengatakan sesuatu yang salah di waktu yang salah pula.
Tingkah laku rekan sekantor yang menyebalkan, bisa sangat menjengkelkan - misalnya si rekan itu tidak dapat berbaur dengan orang lain. Orang yang tidak becus bekerja juga kerap mengundang masalah, apalagi jika orang itu jelas-jelas tidak memiliki kemampuan yang di bidangnya. Bila kita tengah mengalami situasi kerja yang seperti ini, Williams memberi saran untuk menghadapinya dengan langkah-langkah berikut ini:

Perbaiki Cara Komunikasi

Coba latih keahlian komunikasi kita, bersikaplah terbuka dan secara aktif mendengarkan kemauan atasan ataupun rekan kerja kita. Pastikan untuk sama-sama memahami apa yang dibicarakan dengan baik, jadi perhatikan baik-baik tanggapan yang ia berikan. Komunikasikan semua yang diperlukannya, jika atasan atau rekan kerja itu orang yang suka memerintah atau penuntut, cobalah ungkapkan pikiran kita dengan menggunakan memo.

Mengendalikan Stres

Lakukan inventarisasi keahlian kita sendiri, apa saja yang akan kita lakukan saat seharian bekerja, bagaimana cara mengatasinya? Apakah ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan stress kerja? Strategi lainnya adalah dengan memasang alunan musik di kantor. Buatlah jurnal, tulis apa saja yang membuat kits resah, daripada meledakkannya.

Meningkatkan Kemampuan Personal dan Mengendalikan Tingkah Laku

Berpikirlah pro-aktif dalam berhubungan dengan orang lain, apakah kita sudah melakukan praduga pada orang lain? Apakah orang tersebut benar-benar kita butuhkan? Apa yang menjadi motif kelakuan mereka? Cari cara tersendiri untuk berinteraksi dengannya tanpa faktor yang satu itu, dengan begitu kita juga akan membangun posisi yang cukup kuat, bila ia termasuk `orang penting' di kantor.

Hindari Situasi Sulit

Perkecil kontak dengan orang bermasalah tersebut, mintalah bantuan dari rekan kerja lain untuk ikut membantu kerja tim. Cari orang ketiga yang mampu menengahi masalah, bila kita harus berhadapan dengan konflik tersebut. Orang ketiga ini nantinya yang akan menjadi saksi kelakuan rekan kerja yang bermasalah ini.

Usaha Terakhir

Jika situasinya sudah tak tertahankan lagi, cari kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Misalnya, mintalah untuk dimutasi ke bagian lain, menjadi posisi lainnya di perusahaan yang sama, atau bila benar-benar tidak ada kemungkinan lain - ajukan pengunduran diri. Bukan berarti strategi kita kalah, tapi mencoba mengendalikan nasib kita sendiri.

Mengganti Dinamika Kerja

Menurut Buhler, beberapa konflik dan stress yang kerap terjadi dalam ruang kerja sebenarnya dapat diatasi baik dari para karyawan maupun dari tempat kerja itu sendiri. Kekuatan hanya akan datang bersama posisi yang kuat di organisasi tersebut, namun sekarang, kekuatannya cenderung lebih bersifat personal, kekuatan pengetahuannya serta kemampuannya - yang tidak semata-mata dilihat dari gelar kesarjanaan.
Hasilnya, gaya pemerintahan dan kontrol manejer menjadi sumber utama. Ia bisa saja akan merasa terancam kehilangan kekuasaan bila harus mengganti gaya kepemerintahannya tersebut. Buhler memberikan beberapa kiat pada kita, bagaimana caranya menghadapi tipe manejer yang berperilaku sulit.
Salah satunya, jangan bersikap defensif (bertahan). Jangan menempatkan diri pada posisi 'telur di ujung tanduk', dengan kata lain, jangan sampai kita memberi senapan yang memungkinkan atasan `membunuh' kita. Bersikaplah tenang dan diam, perhatikan cara kerja si bos dan bila memungkinkan - ikuti gayanya. Bisa jadi nantinya si atasan akan mampu bekerja sama dengan kita.

Kenalilah, karena individu ini hanya bisa bekerja berdasarkan kemampuannya. Begitu banyak karyawan yang menggunakan caranya sendiri-sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya. Diskusikan cara kerja yang sesuai, bila memang harus ada perubahan - bila perlu berikan berbagai referensi dan sumber informasi yang mendukungnya. Dan yang terakhir, bersikaplah sabar. Sebuah perubahan butuh proses yang panjang - takkan bisa berubah dalam semalam

KERJA ADALAH AMANAH

Aku bekerja benar penuh tanggung jawab

Di areal pembangunan sebuah bendungan raksasa, seorang pekerja bernama Tigor terperosok ke dalam lubang yang cukup dalam sehingga ia tak mampu keluar sendiri. Dia berteriak keras minta pertolongan.

Seorang laki-laki perlente berdasi dan berkacamata hitam mendengar teriakan itu. Dia menengok ke dalam lubang, melirik ke jam Rolex di tangan kirinya, lantas pergi buru-buru. Rupanya keperluan lain pemimpin proyek itu lebih penting daripada nyawa seorang pekerja.


Beberapa saat berlalu, seorang insinyur, kontraktor proyek tersebut, mendengar teriakan itu lalu mendatanginya. Dia memandang ke lubang dan menggelengkan kepalanya. Sambil berkacak pinggang ie memberikan ceramah kepada Tigor, “Hei, mengapa kau begitu ceroboh sampai terherumus begini? Kalau berjalan jangan melamun dong! Itu mata jangan nggak dipake. Kamu payah sekali, di areal ini lubang Cuma satu, kamu kok terjerumus juga. Berjalan saja tidak becus, apalagi memasang batubata! Nanti kalau sudah keluar, hati-hati OK?” Setelah berkata demikian, ia pun pergi.

Beberapa menit berselang, seorang mandor menghampiri bibir lubang tersebut. Ia pun berusaha menolong. “Saya akan membantumu. Kuulurkan tanganku ke bawah dan ulurkan tanganmu ke atas. Jika berhasil kutangkap, tanganmu akan kutarik keluar, OK?” Lalu mereka mencoba saling mengulurkan tangan, tetapi tidak berhasil. Lubang itu terlalu dalam, dan mandor itu pun menyatakan menyesal tak dapat menolong Tigor.
Setengah jam kemudian, Bonar, seorang pekerja lain mendekati lubang itu, dan terkejut karena temannya terperangkap. Ia menoleh ke kiri kanan. Dilihatnya segulung tambang besar tertumpuk di kejauhan. Tanpa menunda-nunda lagi diambilnya tambang besar itu, diikatkan ke pinggangnya. Segera dia turun. Dengan hati-hati kakinya dijejakkan ke dinding lubang. Bonar mencurahkan segenap keberaniannya, seolah-olah nyawa Tigor tergantung padanya.

Sesampai di dasar lubang ia berkata, “Hei, aku Bonar. Kau naik ke pundakku, pegang talinya yang erat, kita akan keluar dari lubang ini.” Tigor menurutinya, menaiki pundak Bonar dan berhasil menggapai tali. Setapak demi setapak mereka mendaki dinding sumur. Akhirnya mereka berhasil keluar lubang maut itu. “Puji Tuhan!” kata Bonar lega. “Alhamdulillah!” seru Tigor terharu.

Empat Sikap Kerja

Secara karikatural ke empat tokoh di atas menggambarkan empat macam sikap orang terhadap amanah yang terkandung dalam pekerjaannya. Pertama, sikap sang pimpro yang pada pokoknya berkata “Emangnya gua pikirin. Ini kantor bukan milik nenek moyang gue. Peduli amat, mau untung syukur, mau bangkrut silakan. Gue di sini orang gajian, mau berkorban demi perusahaan? Sorry ya, harus ada imbalan yang sesuai dong. Kerja ya sesuai gaji kan?” Sikap pertama ini intinya adalah tidak peduli pada pekerjaan, pada organisasi. Pekerja dengan sikap tersebut sekedar mencari nafkah, mencari sesuap nasi. Meskipun tidak bisa disalahkan, jelas bahwa sikap sekedar cari makan tidak mungkin diandalkan untuk mencapai kinerja unggul bermutu tinggi seperti yang dituntut dalam era global sekarang ini.

Kedua, sikap kontraktor yang dapat disingkat dengan krido (Kritik Doang). Orang seperti ini jago ngomong, gemar mengkritik, suka mencela, tetapi jika diminta bertindak hasilnya nol. teorinya banyak, tapi implementasinya nol juga. Suka ikut seminar dan serasehan, tapi yang terutama dicari ialah kopi dan makan siang yang memang enak di hotel-hotel, bukan materi seminar yang serius itu. kemudian jika terjadi kesalahan atau kegagalan, ia selalu menyodorkan teori kambing hitam, menyalahkan kiri kanan, kecuali diri sendiri. Ia bekerja ala kadarnya, seenak udelnya, dan jika ada maslah diam-diam melepaskan diri dari tanggungjawab. Kepeduliannya dangkal sekali, Cuma sebatas mulut.

Ketiga, sikap sang mandor yang bekerja setengah hati. Awalnya bersemangat, tetapi di tegah jalan disergap rasa malas lau mandek, terutama jika menemui kesulitan. Semangat awal cukup besar tetapi tidak didukung komitmen total. Jika membentuk kepanitiaan, ia paling getol tampil sebagai pengurus inti, tetapi jika sudah mulai bekerja hidungnya jarang kelihatan. Suka bilang “ya, ya, ya, gampang deh” tapi jika hasilnya ditagih, selalu mengelak dan minta maaf tanpa rasa malu.

Keempat, sikap kerja Bonar. Inilah ideal kita. Seperti arti namanya dalam ahasa Toba – orang benar atau lurus hati – jika menerima pekerjaan ia tidak berhenti sampai pekerjaan selesai dengan baik dan benar. Ia tidak puas jika hasil kerjannya belum memenuhi standar professional. Ia punya komitmen, mau berkeringat, dan bekerja hingga pemberi kerja puas. Rasa tanggungjawab menghalanginya mengorbankan mutu pekerjaan. Ia pantang bekerja sembarangan. Ia mengharamkan penyelewengan atas kepercayaan yang diberikan. Bonar menunjukkan dengan gambling apa yang saya maksud sebagai Etos Kerja 2, yaitu Kerja adalah Amanah: Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab.

Dari Perut Amanah Lahirlah Tanggungjawab

Tokoh Bonar dalam kisah di atas bekerja benar penuh tanggung jawab karena merasa bahwa keselamatan rekannya merupakan suatu amanah yang harus dilaksanakan. Sebagai rekan sekerja dia merasa wajib tolong-menolong, apalagi dalam kasus ini rekannya terjebak dalam maut.

Konsep kunci di sini adalah amanah. Apa maksudnya? Amanah per definisi adalah titipan berharga yang dipercayakan kepada kita, atau asset penting yang dipasrahkan kepada kita. Konskuensinya, sebegai penerima amanah, kita terikat secara moral untuk melaksanakan amanah itu dengan baik dan benar. Misalnya, pemeluk agama mengakui bahwa anak adalah milik Tuhan yang dititipkan-Nya kepada orangtua untuk dididik dan dibesarkan sesuai kaidah-kaidah agama. Maka sebagai penerima amanah, orangtua bertanggungjawab membesarkan anaknya hingga mencapai kedewasaan biologis-psikologis-spiritual. Dan sudah tentu mereka harus mendidik anaknya secara baik dan benar.

Contoh lain, Martono mendapat penugasan kantor ke luar negeri. Ia punya sahabat baik sejak kecil, Marzuki namanya, yang kebetulan belum punya rumah. Martono tidak ingin mengontrakkan rumahnya karena sewaktu-waktu bisa kembali ke Indonesia. Dia merasa lebi baik menitipkan rumah itu pada Marzuki tanpa uang kontrak dengan syarat rumahnya harus dirawat dengan baik. Dia memang, sangat memercayai Marzuki, dan hitung-hitung sekaligus beramal menolong kawan yang kurang beruntung. Menerima kebaikan dna kepercayaan demikian, Marzuki senang sekali karena uang kontrak bisa ditabungnya untuk uang muka rumah BTN di masa depan. Tetapi dirinya secara moral-yaitu memikul suatu tanggungjawab-untuk memelihara dan menjaga rumah titipan Martono sebaik mungkin.

Dengan dua contoh di atas, saya mengedepankan suatu tesis bahwa tidak mungkin ada tanggungjawab tanpa konsep amanah. Dengan kata lain, amanah mendahului tanggungjawab; tegasnya amanah melahirkan tanggungjawab.

Selanjutnya tanggungjawab memerlukan predikat baik dan benar. Artinya, suatu tanggunjawab harus ditunaikan secara baik dan benar sehingga menyamai bobot amanah yang diberikan. Jika bobot amanah dan tanggungjawab tidak seimbang maka terjadilah mismatch yang membuat salah satu pihak dapat membebaskan diri dari ikatan moral yang terjadi. Jika bobot tanggungjawab kurang, maka pemberi amanah dapat menarik amanahnya kembali. Sang penerima kepercayaan dengan demikian kehilangan kepercayaan yang pernah dimilikinya. Jika amanah ditarik atau dikurangi bobotnya, padahal tanggungjawab penerima tetap tinggi, maka hubungan akan terputus karena penerima amanah kapok dirugikan. Jadi hanya ada satu pilihan: jika kita menerima amanah, kita harus bertanggungjawab secara baik dan benar. Dengan kata lain, dari perur amanah lahirlah bayi tanggungjawab.

Dalam menunaikan amanah tersebut, yaitu ketika kita melaksanakan suatu tanggungjawab, maka pelaksanannya tidak boleh sekedar formalitas. Maksudnya, tanggungjawab itu betul-betul harus kita laksanakan secara benar, baik esensinya, spiritnya, maupun administratif formalnya. Misalnya, seorang angota DPR yang mengemban amanah rakyat daerah Merauke, tidak cukup hanya sibuk melaksanakan tugas-tugas administrattif keparlemenan, tetapi paling esensial, dia juga harus menyuarakan aspirasi rakyat Merauke yang diwakilinya. Jika itu dia abaikan, maka secara moral sesungguhnya membohongi rakyat Merauke karena spirit amanah dengan sendirinya menuntut penunaian kandungan amanah dimaksud.

Demikian juga seorang akuntan, dia tidak cukup hanya menyajikan angka-angka yang balance pada kolom debet dan kredit, tetapi lebih penting lagi, angka-angka itu harus menyatakan fakta bisnis yang benar.
Di bidang lain, seorang sarjana tidak cukup hanya sekedar lulus ujian dan membuat skripsi, tetapi kelulusannya haruslah dengan proses belajar yang benar, tidak menyontek. Skripsinya-pun harus benar-benar buatan sendiri, bukan modifikasi skripsi orang orang lain dengan judul sedikit berbeda yang dipesan dari tukang skripsi yang mangkal di kios-kios pingir jalan di dekat kampus. Di sini, amanah menuntut kesejatian, bukan hanya esensinya tetapi juga prosedurnya.

Amanah : Spirit Anti-KKN

Melaksanakan amanah secara tidak benar dan kurang bertanggungjawab pada akhirnya akan menghancurkan basis kepercayaan. Padahal menurut Francis Fukuyama, kepercayaan (trust) adalah modal sosial tertinggi (Fukuyama, 1995). Karena itu, tidak melaksanakan amanah secara bertanggungjawab berarti menghancurkan diri sendiri, dan ditingkat perusahaan ini bisa membangkrutkan organisasi, mengingat yang terjadi sesungguhnya adalah kemunafikan, kepalsuan, dan pembodohan hukum-hukum. Inilah yang terjadi pada bank-bank di Indonesia pada zaman krisis moneter 1997-1999. Ratusan bank limbung kemudian ambruk karena sejak lama sebelumnya praktik-praktik kontra amanah sangat ramai diselenggarakan. Tindak kepalsuan tidak mungkin bertahan lama. Ketidakbenaran mustahil tegak berdiri lestari.. Dan hukum-hukum mustahil dilawan dan dibodohi. Kitalah yang bodoh jika berusaha melanggar hukum-hukum ekonomi, hukum-hukum alam, atau hukum-hukum moral. Jadi sekali lagi, sebuah amanah harus kita laksanakan penuh tanggungjawab, dan tanggungjawab harus kita tunaikan secara benar. Atas dasar argumentasi inilah saya berani mengatakan bahwa etos kerja kedua ini merupakan etos anti-KKN yang efektif. Maksudnya, apabila seorang pejabat, misalnya, cukup mampu menghayati pekerjaannya sebagai amanah, maka dia diberdayakan untuk mampu mengatasi godaan KKN.

KKN adalah pengingkaran atas amanah karena secara telanjang pelaku KKN memutarbalikkan arah amanah tersebut pada kepentingan dirinya dan melupakan, bahkan merugikan, sang pemberi amanah. Ia menolak bertanggungjawab kepada pihak yang berhak. Dengan kata lain, ia berkhianat karena melanggar kewajiban moralnya. Jadi, tatkala seorang anggota DPR, misalnya, menggunakan kekuasaan legislatifnya untuk ”menginjak kaki” eksekutif demi uang, maka ia telah berlaku khianat kepada rakyat yang memberinya amanah. Tatkala seorang calon ekskutif mengimingi anggota legislatif agar proposalnya disetujui, maka calon ekskutif ini sudah membunuh amanah tersebut sebelum ia sempat dilahirkan. Demikian pula polisi yang memeras rakyat, hakim yang memeras para pencari keadilan, jaksa yang memeras pejabat, atau dewan guru yang memeras orangtua murid, secara terang-terangan sebenarnya melakukan pengkhianatan kepada pemberi amanah.
Karena itu etos amanah seyogyanya diajarkan di sekolah-sekolah, dalam diklat kantor, dan di semua program pembinaan SDM, agar pegawai dan pejabat organisasi bersangkutan lebih bertanggungjawab dan berdaya secara moral dalam mengemban amanah dipundak masing-masing.

Kita Semua adalah Pemegang Amanah

Saya berkata, kita semua adalah pemegang amanah. Tidak hanya satu tetapi banyak. Terdapat multi-amanah di bahu kita.

Pertama, amanah dari Tuhan, bangsa dan negara: Itulah Indonesia dan kekayaan sosial-budayanya, Indonesia dan kekayaan sumberdayanya hayatinya, Indonesia dan kekayaan sumberdaya mineralnya. Segenap bakat, talenta, dan potensi diri kita serta anggota keluarga, khususnya anak-anak kita, bahkan rezki dan harta benda lainnya yang dipercayakan Tuhan kepada kita, semua adalah amanah.

Kedua, amanah dari organisasi: Itulah jabatan, konstituen, dan anakbuah kita; asset non-material berupa infomasi, citra, budaya, visi, nilai-nilai organisasi kita, di samping asset material seperti uang, barang, kendaraan, gedung, perkakas kantor, dan semua kekayaan organisasi lainnya.
Mengapa bisa demikian? Manusia sebagai makhluk moral adalah manusia yang berhubungan dengan dunia sekitarnya dalam suatu tatanan yang dicirikan dengan relasi-relasi moral. Jadi, hubungan kita dengan orangtua adalah hubungan moral. Hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan moral juga. Demikian pula dengan tetangga, dengan hewan, dengan bumi, dengan udara dan air, dengan uang, dengan pekerjaan dan jabatan – bahkan hubungan dengan apa pun, pada dasarnya adalah relasi-relasi moral, yang lahir dari status kita sebagai manusia moral, makhluk berbudi.

Dalam hubungan-hubungan moral ini, terjadilah tatanan organik, di mana kita saling memberi dan menerima. Dari orangtua kita menerima tidak saja kasih – sayang, tetapi lebih fundamental lagi, kita menerima warisan fisik, budaya, dan etisitas yang tidak mungkin kita buang.
Diri saya contohnya. Suara dan cara berjalan saya sangat mirip dengan suara dan cara berjalan mendiang ayah saya. Jidat dan mata saya sangat mirip dengan milik almarhumah ibu saya. Kemudian, karena mereka berdua orang Pak-pak, saya-pun otomatis orang Pak-pak. Tidak peduli berapa ton keju atau kuintal gudeg saya makan kemudian, tidak satu pun hal itu mengubah jati diri saya sebagai orang Pak-pak. Sampai mati saya tidak bisa lain kecuali menjadi orang Pak-pak. Bukan Cuma itu, kecerdasan, motivasi, cita-cita, standar sukses, dan kontrak-kontrak bathiniah saya, sudah pasti sebagian besar merupakan hasil organik warisan keluarga dan leluhur saya. Karena budaya kami bersifat patrilineal-seturut garis ayah- maka saya pun menerima nama keluarga (fam, marga ) Sinamo. Sesuai kaidah adat budaya kami, maka saya pun otomatis turut menjadi pemilik dalam warisan tanah ulayat Sinamo di desa Progil Jehe, kira-kira 175 km barat daya kota Medan.

Sejalan dengan tesis bahwa amanah melahirkan tanggungjawab, maka saya pun otomatis bertanggungjawab atas warisan biologis, fisik dan sosial budaya yang saya terima. Oleh karena kesadaran amanaha inilah maka tumbuh rasa tanggungjawab untuk meneruskan cita-cita orang tua saya, melaksanakan pesan-pesan kedua almarhum yang saya cintai itu. Saya berusaha menjaga nama baik mereka. Bahkan saya berusaha meningkatkan derajat mereka, memuliakan mereka dengan membangun prestasi-prestasi yang akan mengharumkan nama mereka.
Sekarang. Dengan kesadaran dan penghayatan bahwa kita mengemban amanah yang penting, maka terbitlah perasaan benar, feeling right, di dalam hati kita dan untuk melakukannya dengan benar. Perasaan ini selajutnya menimbulkan motivasi yang amat kuat. Dengan demikian kita akan berada dalam modus melakukan hal yang benar, dengan tujuan yang benar, dengan sikap yang benar, dengan cara yang benar, serta menggunakan data dan instrumen yang benar pula. Bila ini terjadi, seyogianya hasilnya akan benar pula.

Selain itu, kesadaran bahwa kita mengemban amanah, akan melahirkan kewajiban moral, yaitu bahwa nilai yang termuat dalam amanah itu kita hargai dengan sangat tinggi sehingga tumbuhlah perasaan bahwa ia harus dijaga, dipelihara, dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Moral obligation inilah yang disebut sebagai tanggungjawab.
Selanjutnya, dengan cara yang sama Anda dan saya bisa mendaftarkan hal-hal yang menjadi tanggungjawab kita dalam hidup ini. Misalnya, karena kita turut menjadi pemegang amanah sebuah negeri yang disebut Indonesia maka kita pun mempunyai tanggungjawab sebagai anak negeri ini. Karena kita turut menjadi pengemban amanah planet bernama Bumi, maka kita pun mempunyai tanggungjawab sebagai warga Bumi. Karena kita turut menjadi penerima amanah kekayaan hayati yang beragam, maka kit pun turut bertanggungjawab atas kelestarian lingkungan kita. Karena kita menjadi penerima amanah kekayaan sodial-budaya dari umat manusia sebumi, maka kit pun turut bertanggungjawab atas setiap saudara kita, sesama umat manusia. Dalam kaitan yang terakhir ini, persahabatan pun adalah amanah karena dalam persahabatan itu kita saling menerima kepercayaan, dan oleh karenanya maka kita pun bertanggungjawab memelihara persahabatan itu.

Terakhir, secara spriritual kita percaya bahwa kita telah menerima amanah kehidupan dari Sang Pemilik hidup, yaitu Tuhan Sang Maha Pemberi. Oleh karenanya kita bertanggungjawab atas setiap detik kehidupan kita yang fana ini. Entah berapa panjang usia kita di Bumi ini, maka amanah usia tersebut harus kita pertanggungjawabkan kelak di mhkamah ilahi. Entah kita akan masuk surga atau neraka, sebagian atau seluruhnya, tergantung kualitas tanggungjawab kita atas hidup kita, yaitu buah kesadaran kita atas amanah ilahi itu.

Amanah dan Pengembangan Diri

Di sini saya akan menyinggung tentang amanah unik yang diberikan Tuhan kepada kita masing-masing, yaitu bakat, talenta dan potensi biologis-psikologis-spiritual insani lainnya yang kini menjadi milik kita. Menurut Howard Gardner, seorang pakar kecerdasan dari Universitas Harvard, kita semua menerima kombinasi unik paling sedikit tujuh macam kecerdasan, yaitu kecerdasan rasional-matematika, kecerdasan ruang-waktu, kecerdasan musikal, kecerdasan emosional, kecerdasan fisik, kecerdasan verbal dan kecerdasan sosial (Gardner, 1993).

Kesadaran moral atas amanah human potensial inilah yang melahirkan konsep tanggungjawab pribadi atas pengemangan diri kita secara optimal menuju limit kesempurnaan yang mungkin. Semakin besar rasa tanggungjawab kita semakin besar pula ukuran diri kita. Orang “kerdil” disebut “manusia kerdil”, bukan karena ditakdirkan “kerdil”, melainkan karena yang bersangkutan tidak mau mengambil tanggungjawab mengembangkan dirinya dan hanya bersedia memikul tanggungjawab yang “kerdil” saja.

Sebaliknya orang “besar” menjadi “manusia besar” bukan karena badannya besar tetapi karena yang bersangkutan berani memikul tanggungjawab yang besar. Solzhnistsyn, misalnya, sastrawan Rusia pemenang hadiah Nobel 1970 ini menjadi tokoh besar – sampai ia diperlakukan bagaikan setengah dewa – karena dia merasa harus bertanggungjawab menyuarakan fakta dan kebenaran yang dilihatnya dalam kamp kerja paksa Uni Sovyet yang terkenal itu. Nuraninya tidak bisa diam. Dia merasa bahwa menyuarakan kebenaran merupakan amanah suci sehingga menulis laporan yang jujur meskipun harus disampaikan dalam bentuk novel adalah suatu keharusan nurani. Inilah tanggungjawab yang langsung berhadapan dengan kekuatan tirani raksasa bernama Partai Komunis Uni Sovyet saat itu. Lalu Solzhenistsyin pun bertiwikrama menjadi orang besar.

Contoh lain, dalam kisah klasik Daud vs Goliat bukan sang raksasa Goliat yang disebut besar, melainkan Daud yang tuuhnya justru sangat kecil ukurannya dibanding Goliat. Pada kisah biblis tersebut diceritakan bahwa tidak satu pun perwira Bani Israel yang berani tampil melayani tantangan Goliat. Keberanian dan nyali mereka ciut mengkeret. Tapi ketika Daud tiba di medan perang serta mendengar langsung hujatan dan pelecehan Goliat kepada Tuhan, maka Daud yang selalu akrab dengan Tuhan itu, segera dijangkiti moral obligation untuk membuktikan sebaliknya. Membela kebesaran nama Tuhan menjadi semacam amanah pribadi baginya yang secara instan menumbuhkan moral courage yang besar untuk melawan musuh yang kafir, fasik dan tak bersunat itu. Demikianlah Daud turun tangan sendiri menghadapi Goliat dan Menang!

Kerja adalah Amanah

Kerja pun merupakan amanah. Jabatan adalah amanahh. Inilah yang sering dikatakan oleh Baharuddin Lopa, mantan Menteri Kehakiman dan HAM yang kemudian juga dipercaya sebagai Jaksa Agung pada Kabinet presiden Abdurrahman Wahid. Bagi Lopa, jabatannya adalah amanah untuk menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan. Menurut Lopa, biar pun langit runtuh hukum harus ditegakkan.

Lebih khusus lagi, melalui kerja kita menerima amanah. Pemilik modal memercayakan usahanya. Manajemen memercayakan pelaksanaan tugas-tugas khusus. Pelanggan memercayakan kontinuitas pembeliannya. Pemasok memercayakan barangnya dengan pembayaran dibelakang. Karyawan memercayakan masa depannya. Sebagian orang lagi menerima tugas pekerjaannya sebagai amanah langsung dari negara. Merekalah para pegawai negeri, termasuk semua duta besar. Sebagian lagi mengemban amanah rakyat, merekalah para anggota DPR dan DPD. Demikian pula presiden, gubernur dan bupati mendapat mandat dari rakyat pemilihnya. Bahkan ada pekerjaan-pekerjaan yang secara langsung dari Tuhan. Itulah pekerjaan para nabi dan rasul yang pada gilirannya diwarisi oleh kaum ulama seperti pendeta, kiai, pastor. Entah apapun pekerjaan Anda, pendeknya banyak kepentingan pihak lain, yaitu para konstituen, dipercayakan kepada Anda.

Sebagai pemegang amanah (trust holder) kita adalah orang yang dipercayai dan diharapkan mampu melaksanakan amanah tersebut dengan sukses. Istilah dipercayai disini memiliki dua makna.
Pertama, dipercayai secara teknis. Ini mengandaikan adanya kompetensi. Dengan kompetensi orang mampu melaksanakan tugasnya dengan benar sesuai standar teknis dan profesional.
Kedua, dipercayai secara moral. Ini mengandaikan adanya integritas. Dengan integritas orang mampu melaksanakan tugasnya dengan benar sesuai standar etis, tidak berkubang dalam KKN. Jadi kompetensi dan integritas adalah sepasang kualitas utama agar seseorang mampu mengemban amanah dengan sukses.
Untuk membangun kompetensi diperlukan pendidikan dan pelatihan yang serius. Sedangkan untuk membangun integritas diperlukan pengetahuan akan dan komitmen kuat pada nilai-nilai etika. Keduanya tidak terpisahkan sebagai prasyarat utama bagi kemampuan mengemban amanah.

Jika kita bekerja dengan penghayatan sebagai seorang pengemban amanah, maka secara internal, oleh karena otot integritas kita yang terus berkembang, kita akan bertumbuh menjadi pribadi yang terpercaya. Kata terpercaya di sini mengandung dua makna. Pertama, keandalan (reliability) yang mengacu pada kompetensi teknis; dan kedua, keterpercayaan (thrustworthiness) yang mengacu pada kompetensi etis.
Jelas bahwa karakter keterpercayaan ini menjadi jaminan sukses pelaksanaan amanah itu sendiri. Secara empirik kita melihat bahwa orang yang sukses mengemban amanah kecil akan mendapat kepercayaan amanah lebih besar. Lagi-lagi karakter terpercaya menjadi modal penting untuk sukses lanjutan itu. Boleh dikatakan, di atas karakter terpercaya inilah kita membangun kinerja yang unggul, sehingga pada gilirannya membuat kita dihargai dan dipercayai orang. Hal ini tentu akan memupuk motivasi dan harga diri kita. Demikianlah harga diri yang sehat dan rasa bangga yang benar ditegakkan di atas fondasi yang kukuh.

Menumbuhkan Etos Amanah

Bagaimana cara mengembangkan etos amanah? Ini pertanyaan sulit. Tetapi sangat penting untuk dijawab karena pengetahuan ini akan membawa kita pada kunci pengembangan SDM terpenting bagi negeri ini. Di tingkat internasional, Indonesia selalu berlangganan gelar negeri terkorup di dunia. Apa pun argumentasi kita, jelas bahwa memberantas korupsi harus menjadi salah satu program terpenting di republik ini. Tanpa program ini maka pembangunan apa pun niscaya takkan berhasil. Dan pada tingkat ini, berarti kita harus membangun etos amanah dalam hati setiap pejabat, setiap hakim, polisi, jaksa, guru, bahkan semua pegawai mulai dari kantor kelurahan sampai kantor kepresidenan.

Menurut observasi saya, etos amanah lahir dari proses dialektika dan refleksi batin tatkala kita berhadapan dengan kenyataan buruk di lapangan yang diperhadapkan dengan tuntutan moral dan idealisme di pihak lain. Dalam proses ini terjadi penyentakan-penyentakan perasaan, kejutan-kejutan kejiwaan, dan pencerahan-pencerahan batin – umum disebut sebagai moment of truth – yang kemudian mentransformasikan kesadaran kita ke tingkat yang lebih tinggi dan selanjutnya melahirkan etos amanah.
Pengalaman moment of truth selalu menjadi suatu titik-balik yang menandai tumbuhnya kesadaran baru dan berkembangnya moral yang lebih tinggi. Maka terbentuklah etos amanah yang selanjutnya merumuskan atau mempertegas peran dan tanggungjawab bersama serta melahirkan sebuah daya juang besar untuk mewujudkan cita-cita dan visi bersama.

Baharuddin Lopa, misalnya, menyelenggarakan proses dialektika batin tersebut antara ajaran Islam yang dianutnya secara sangat sungguh-sungguh dan realitas korupsi dan kolusi yang mengerikan di negeri ini. Saat banyak kawan seprofesi Lopa memilih menistakan diri demi uang, ia justru memutuskan menjadi protagonis. Jadilah ia seorang jaksa yang amat menakutkan bagi para koruptor, tetapi ia dielu-elukan oleh rakyat.
Demikian pula perasaan amanah seorang Mahatma Gandhi untuk menegakkan keadilan dan meraih kemerdakaan bagi India, muncul pada saat ia mengalami moment of truth di sebuah stasiun kereta api di Durban, Afrika selatan. Sebagai pengacara lulusan Inggris ia sanggup membeli karcis kelas satu. Tetapi warna kulitnya membuat ia dianggap tak layak duduk di sana sesuai aturan zalim sistem apartheid. Polisi pun menyeret dan melemparkan Gandhi keluar kereta pada saat tiba di stasiun berikutnya. Pengalaman ini sangat menyentak kesadaran Gandhi. Lalu ia pun mulai bermertamorfosa menjadi pejuang keadilan, pengemban amanah kebenaran.

Bung Karno juga mulai menumbuhkan etos amanah untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda tatkala ia terlibat dalam pergumulan intensif, yang diakibatkan kenyataan kaumnya yang terpuruk, miskin, papa dan tertindas di tengah gemerlapan kaum penjajah yang makmur. Di tengah kontras besar itu, kesadaran politik Soekarno, yang saat itu masih sangat belia sebagai siswa HBS (setingkat SMU), semakin bertumuh pesat karena ia mendapat pencerahan-pencerahan batin dan intelektual melalui diskusi-diskusi dengan para aktivis Islam dan kaum Marxis di indekosnya di kediaman HOS Tjokroaminoto, di kota Surabaya. Etos amanah ini kemudian dikonseptualkannya dalam suatu bingkai teori politik yang diberinya judul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” yang terkenal itu. Tatkala ia pindah ke Bandung dan menjadi mahasiswa THS (kini ITB) kesadaran dan moral feeling ini semakin matang melalui aktivitasnya dalam berbagai perkumpulan dan pertemuan politik yang diungkapkannya melalui talenta terbesarnya, yaitu berpidato. Saat di tanah Priangan ini inovasi politiknya yang semakin cerdas menghasilkan apa yang kelak dikenal sebagai Marhaenisme. Dua penjara, Banceuy dan Sukamiskin, turut pula memperkaya batinnya serta memperkuat tekadnya dalam mengemban amanah rakyatnya, sampai-sampai kemudian secara elegan merumuskann peranan dirinya sebagai “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Secara hakiki, Soekarno mengalami dan melakukan proses-proses transendensi intelektual-spiritual dengan cara menyelami dan mengkonstruksi suatu gagasan besar bernama “Indonesia”. Ia bahkan mengidentifikasi dirinya dengan bakal negara bernama Indonesia tersebut sedemikian rupa, sehingga pidato pembelaan dirinya di mahkamah penjajah pada tahun 1926, disebutnya sebagai “Indonesia Menggugat” dan bukan “Soekarno Menggugat”.

Lahirnya Tanggungjawab

Jadi, masalah kita adalah, adakah sebuah pengalaman bathin yang dramatis pernah kita alami sehingga kesadaran etos amanah ini tumbuh subur dalam jiwa kita dan melahirkan komitmen untuk bekerja benar penuh tanggungjawab?
Secara ringkas, saya sekarang bisa menjelaskan bagaimana etos amanah yang melahirkan rasa tanggungjawab dalam tubuh SDM kita sebagai berikut :

1. Manusia harus disadarkan bahwa dirinya adalah makhluk moral yaitu insan yang berbudi luhur dan bermartabat tinggi.
2. Budi luhur dan martabat tinggi ini mewajibkan kita untuk dengan sendirinya berperilaku sesuai dengan hakikat budi dan martabat itu sendiri.
3. Pekerjaan adalah suatu tata relasi yang di dalamnya terjadi kegiatan saling memberi dan menerima secara fungsional.
4. Oleh karena hakikat budi dan martabat manusia di atas maka pekerjaan maupun setiap peristiwa kerja di dalamnya dengan sendirinya bersifat moral.
5. Kesadaran moral khusus dalam konteks kerja ini dirumuskan dalam sebuah konsep bahwa kerja adalah amanah.
6. Dari kesadaran amanah ini lahirlah kewajiban moral yaitu tanggungjawab yang kemudian menimbulkan keberanian moral dan kehendak kuat untuk :
a. Melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.
b. Menggunakan bahan, informasi, metoda, dan prosedur dengan benar.
c. Mencapai tujuan kerja itu sendiri sesuai visi yang ditetapkan.
d. Singkatnya, amanah mewajibkan kita untuk bekerja benar penuh tanggungjawab. Ini sedikitnya berarti:
i. Bekerja sesuai dengan job description dan mencapai target-target kerja yang ditetapkan.
ii. Tidak menyalahgunakan fasilitas organisasi.
iii. Tidak membuat dan mendistribusikan laporan fiktif.
iv. Tidak menggunakan jam kerja untuk kepentingan pribadi.
v. Mematuhi semua aturan dan peraturan organisasi.

Mutiara Etos Amanah

1. Hakikat, karakter dan modus operandi amanah:
a. Kerja adalah amanah, Jabatan adalah amanah. Melalui kerja kita menerima amanah.
b. Amanah adalah titipan berharga yang dipercayakan kepada kita.
c. Semakin besar tanggungjawab kita semakin besar pula bobot diri kita.
d. Kompetensi dan integritas adalah sepasang kualitas utama agar orang mampu mengemban amanah.
e. Manusia adalah makhluk moral, artinya manusia berbudi luhur dan bermartabat tinggi yang hidup dalam tatanan yang dicirikan oleh relasi-relasi moral.
f. Moment of truth selalu menjadi titik balik menandai tumbuhnya kesadaran baru dan berkembangnya moral yang lebih tinggi.
2. Dari perut amanah lahirlah tanggungjawab:
a. Amanah mengharuskan kita bekerja benar penuh tanggungjawab.
b. Amanah menuntut kesejatian, baik esensi maupun prosesnya.
c. Etos amanah lahir dari proses dialektika dan refleksi batin tatkala kenyataan buruk dihadapkan dengan tuntutan moral dan idealisme.
d. Kesadaran akan amanah melahirkan kewajiban moral, yaitu tanggungjawab yang kemudian menimulkan perasaan benar, keberanian moral, dan kehendak kuat untuk melaksankan tugas dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, serta menggunakan bahan, informasi, metoda, dan prosedur dengan benar untuk mencapai tujuan kerja itu sendiri sesuai visi yang ditetapkan.

3. Kekuatan amanah: amanah adalah kepercayaan.
a. Menerima dan memikul tanggungjawab adalah salah satu cara terbaik mengembangkan karakter manusia.
b. Kita menerima amanah kehidupan dari Sang Pemilik Hidup, karenanya kita bertanggungjawab atas setiap detik hidup kita yang fana ini.
c. Kita semua adalah pemegang amanah. Tidak hanya satu tetapi banyak amanah.
d. Barangsiapa berhasil mengemban amanah kecil akan mendapat kepercayaan mengeman amanah besar.
e. Tanggungjawab harus diwujudkan dengan benar, baik esensi, semangat, maupun teknis pelaksanaannya.
f. Tanggungjawab harus ditunaikan setara dengan bobot amanah yang dipercayakan.
g. Tidak ada tanggungjawab tanpa kesadaran amanah. Amanah melahirkan tanggungjawab.
4. Manusia amanah : tujuan amanah yang terpenting adalah agar kita semua menjadi manusia yang sungguh-sungguh bertanggungjawab:
a. Kita membangun kinerja yang unggul sehingga dihargai dan dipercaya.
b. Jika kita bekerja dengan penghayatan sebagai pengemban amanah, maka kita akan bertumbuh menjadi pribadi yang handal secara teknis dan kompeten secara etis.
c. Pemegang amanah harus berkompetensi tekis agar hasilnya baik, dan berkompetensi etis agar hasilnya benar.
d. Untuk membangun kompetensi diperlukan pendidikan dan pelatihan yang serius. Untuk membangun integritas diperlukan pengetahuan dan komitmen kuat pada nilai-nilai etika. Keduanya tidak terpisahkan sebagai prasyarat utama bagi kemampuan mengemban amanah.
5. Dunia tanpa amanah :
a. Ingkar akan amanah menghancurkan kepercayaan dan kredibilitas.
b. Korupsi, yang adalah pemutarbalikan amanah – dari kepada sang pemberi amanah menjadi kepada kepentingan pribadinya – akan merajalela, dan koruptor hidup bebas berfoya-foya.
c. Kredibilitas dan kepercayaan pribadi menjadi rusak, yang pada gilirannya akan menghancurkan tatanan kehidupan bersama.
d. Tanpa pelaksanaan amanah yang benar dan bertanggungjawab, basisi saling percaya akan hancur berantakan.
e. Tanpa amanah kepalsuan akan bertahan lama, ketidak – benaran akan tegak berdiri lestari,dan hukum-hukum akan senantiasa dilawan dan dibodohi